.:: Menu ::.

.:: Shout Yours ::.

Nama :
Web URL :
Pesan :
:) :( :D :p :(( :)) :x

.:: Recent Entry ::.



.:: Calendar ::.

<< January 2012 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
01 02 03 04 05 06 07
08 09 10 11 12 13 14
15 16 17 18 19 20 21
22 23 24 25 26 27 28
29 30 31


.:: Contact Me ::.



Yahoo! Messenger

If you want to be updated on this weblog Enter your email here:

.:: Company ::.





.:: Community ::.


.:: Banner ::.

Juara 1 Cerita Anak Fantasi 2006


.:: Jejala ::.




.:: Feeds-Stats ::.

RSS
Atom
rss feed



Free Counter
Hits


.:: Credits ::.

Friday, July 21, 2006
[Kisah] Sebuah Desa Dimana Laut Begitu Dekat



Menyusuri jalanan Babakan, sebuah desa sebelum pantai wisata Pangandaran, kau akan mendengar deru ombak pantai yang bersusulan berkejaran tak pernah berhenti. Deburan suara itu akan mengundangmu untuk mendekati, mencari darimana suara itu datang. Ia tidak jauh. Pantai itu tidak jauh. Dengan berjalan melewati gang kecil di samping rumah di pinggir jalan, lalu berbelok ke arah belakang, lurus, kau akan berjumpa dengan pantai. Kau akan berjumpa dengan laut.

Pantai itu terlihat alami, tidak ada beton-beton penahan gelombang. Karena memang gelombang dan ombak lautan yang menghempas pasirnya tidak terlalu tinggi. Ada sebuah perkampungan nelayan disana. Di saat kau berjalan untuk menuju pantai itu, kau pasti akan disapa oleh seorang ibu atau mungkin seorang bapak yang tengah merajut atau menjahit kembali jala-jala bekas menangkap ikan tadi malam. Atau kau akan disapa oleh seorang bapak yang tengah menambatkan perahunya di tepian pantai.

Cukup indah. Bahkan sangat indah kalau kau kesana dengan seseorang yang kau kasihi, dengan kekasihmu. Di sana akan kau lihat hamparan pasir yang tidak begitu luas, 5 meter kurang lebih dari batas pertemuan antara asin air laut dan pasir yang basah. Cukup untuk membuatmu duduk-duduk di atas pasirnya, memandangi ombak yang mundur sesaat, lalu kemudian menerjang lagi. Kau pasti akan berangan untuk dapat menaikinya.

Laut selalu membuatmu kecil. Laut selalu membuat apa yang kau punyai terasa kecil. Tak peduli setangguh apapun kau di daratan, sebesar apapun yang kau punyai di daratan, cobalah kau bawa ke tengah lautan. Cobalah kau bawa kapalmu, sebesar apapun itu ke lautan. Terlihat kecil bukan? Pun cobalah kau bawa ketangguhanmu di daratan ke tengah lautan. Masihkah kau tangguh disana? Kau hanyalah titik yang tengah terapung sendiri. Yang akan kau lihat hanyalah dirimu dengan apa yang kau punyai itu terapung di samudera luas tak berbatas. Di sekelilingmu kau hanya akan melihat air, air, dan air; biru, biru dan biru warna langit. Kenapa langit berwarna biru? Apakah karena ia adalah pantulan warna lautan. Lalu kenapa laut berwarna biru? Jangan katakan kalau ia memantulkan warna langit.

Siang itu aku ke pantai bersama seorang perempuan yang kepadanya aku memendam cinta. Orang-orang pastinya merasa aneh melihat dua orang manusia berjalan menuju pantai di waktu siang, di saat matahari panas membakar. Tapi aku  tak peduli. Aku ingin melihat pantai. Aku ingin melihat laut. Bersamanya. Sebelum habis waktuku di tempat ini, di desa ini. Bukankah pantai tidak melarang siapapun untuk mengunjunginya, kapanpun. Malam, siang, senja, pagi sama saja baginya. Hanya hawa udara yang menjadi penanda, dan cericit camar isyaratkan suasana. Deburan ombak selalu terdengar sama.

Di pasirnya aku duduk, tak peduli kotor dan pasir yang nantinya akan menempel di celanaku saat aku berdiri lagi. Di sampingku seorang perempuan yang kepadanya aku memendam cinta. Dia menatap laut, merasakan deru ombak yang ingin mendekatinya. Tak sampai, lalu ia mundur lagi, bukan untuk menyerah, tetapi untuk kembali lagi. Ombak tidak pernah menyerah untuk mencumbui pasir. Ia mencipta buih, mencipta deru, mencipta debur. Membawa kerang-kerang kecil yang telah ditinggal penghuninya, mendamparkannya di pantai, kemudian dikumpulkan oleh manusia-manusia terampil, pengrajin untuk disepuhnya menjadi hiasan.

Perempuan yang kepadanya aku memendam cinta terduduk di sampingku, menekuk lutut, mendekatkannya pada dada. Dia tengah memandang lautan, merasai angin yang berhembus kencang. Aku melihat padanya. Melihat wajahnya. Melihat matanya. Cantik. Indah. Melebihi kecantikan dan keindahan pantai ini. “Inilah pantai itu,” dia berkata, “Indah bukan?” Memang indah, saat ini, detik ini, karena aku menyaksikan semua keindahan ini bersama keindahan itu sendiri, kamu.

Aku berdiri, melangkah mencari sebidang pasir basah yang bisa aku tulisi kata-kata dengan jariku.

    wahai ombak wahai buih
    putih putih putih buihmu
    gemuruh gemuruh gemuruh ombakmu
    bersusulan berkejaran tiada henti
    sampaikan pesan samudera luas tak berbatas
    pada pepasir dan pantai yang tak mengerti kedalamannya
    kepadamu ku titipkan pesan
    ku titipkan belaian
    sampaikan pada angin agar ia membelai wajah seorang perempuan
    yang kepadanya aku memendam cinta

Lalu segaris ombak melaju, membawa buih-buih putih, menghapus kata-kata di pasir itu. Tak ada penyesalan. Meski perempuan yang kepadanya aku memendam cinta belum sempat membaca. Ia masih terduduk di sana. Tak ada yang perlu disayangkan. Semua juga akan hilang. Apalagi hanya kata-kata yang tertulis di pasir itu.  Angin akan mengaburkan debu-debu, ombak akan terus melaju, mencari jarak terjauh yang dapat ditempuh, mengakrabi pepasir, mengakrabi pantai, mengakrabi daratan. Tulisan pasir itu akan hilang juga nantinya.

    gemuruh ini, buih-buih ini, pepasir ini
    gemuruhmu isyaratkan pesan
    samudera keheningan
    diri berangan
    seorang kekasih akan datang
    mengulur sandaran
    buihmu adalah harapan
    perjalanan
    ia meninggi, sesaat
    lalu terhempas lagi
    meninggi
    menyambangi pasir
    dan pasirmu adalah kerinduan
    perjumpaan dengan asin lautan
    rinduku akan terus melaju
    mengalir tak henti
    seperti ombakmu
    tak pernah menyerah

Jika kau suatu saat tidak sengaja atau sengaja pergi ke pantai Babakan -kau tinggal mencari sebuah gang di samping sebuah sekolah, kau ikuti terus jalan itu, ia akan mengantarkanmu ke pantai itu– tolong lihatkan untukku apakah di sana masih ada pahatan pasir yang pernah ku pahat hari itu, saat siang matahari membakar, aku duduk, di sampingku seorang perempuan yang kepadanya aku memendam cinta. Aku ragu ia masih dapat kau jumpai di sana. Sebab ombak akan terus mencari jarak terjauh untuk mencapai daratan, ia membawa serta pasir-pasir dan kerang karang kecil. Ia akan menutupi pahatan pasirku, sebuah pahatan berjumlah tiga bentuk berjajar. Bentuk pertama adalah sebuah bidang, kau akan melihatnya seperti angka 1 atau huruf I yang tercetak di atas pasir. Sejajar dengan itu ada sebuah bentuk yang pasti sebuah orang tahu. Ia adalah sebuah lambang. Orang biasa menyebutnya tanda cinta, hati. Dan bentuk ketiga adalah sebuah cetakan dua bidang berdiri sejajar dan disatukan dengan garis lengkung di salah satu ujungnya. Kau akan dengan mudah mengenalinya sebagai huruf U. Tolong lihatkan padaku apakah pahatan-pahatan itu masih tercetak di sana.

Aku memahat bentuk-bentuk itu dengan kedua tanganku yang aku biarkan kotor begitu saja menggaruk-garuk pepasir. Toh ada banyak air untuk ku membasuh membersihkan diri. Di sampingku seorang perempuan yang kepadanya aku memendam cinta. Aku tujukan pahatan itu untuknya. Tapi mungkin dia tidak tahu, atau dia pura-pura tidak tahu. Dia tengah berkisah tentang kisahnya. Aku mendengarkannya. Melihat wajahnya dan bibirnya yang bergerak-gerak merangkai kata dan kalimat tak terputus, dengan latar pantai yang memanjang sebatas mata memandang dan latar suara deburan ombak dalam tempo tak tentu namun pasti; sungguh keindahan apalagi yang dapat kau rasakan melebihi ini.

Terik matahari menyinari dari ketinggian namun panasnya telah bersekutu dengan hembus udara dan angin pantai yang terasa sejuk. Tak terlihat kepiting-kepiting kecil yang berlarian di pasirnya, hanya buih-buih yang bertalian di ujung gelombang menjulur menjilat pasirnya.

Kau berdiri, melangkah mendekati laut, menyapa ujung lidah airnya. Namun kau segera saja mundur ketika kau mendapati tepian airnya hendak menghampirimu. Kau takut gaun yang kau kenakan basah. Ringan langkah kakimu menghindari sapaan garis-garis air itu. Kenapa kau hindari? Bukankah ia hanya ingin menyampaikan pesan samudera?. Bukannya ia hanya ingin membasuh kakimu, menyentuh kulitmu seperti seorang anak mencium kaki ibunya? Bukankah air adalah sumber kehidupan? Lalu mengapa harus kau hindari? Mendekatlah, biarkan ia membasuh jemari kakimu yang tiada pernah tersentuh kecuali oleh tanganmu sendiri. Ia suci. Bukankah, apapun yang telah dibasuh oleh air menjadi suci?

Ringan langkah kakimu menapaki pasir-pasir basah itu, menyusuri tepiannya.  Mencari sesuatu yang bisa kau bawa; kerang-kerang, karang-karang. Tapi kau hanya menemukan seekor bangkai, bangkai ayam. Ia terdampar tak jauh dari jarak terjauh air menyambangi daratan. Adakah laut telah membuatnya mati? Ataukah ia hanya mengabarkan kepada daratan tentang kematian seekor ayam. Lalu kau menjauh, menyusuri tepiannya. Sesekali kau bermain-main dengan buih-buih yang menyambangi daratan. Langkahmu anggun, kerudung putihmu berkibar diterpa angin laut siang itu. Tak begitu terasa panas, sebab ia telah bersekutu dengan lautan untuk mencipta silir dan kesejukan. Aku memandangimu. Seorang perempuan yang kepadanya aku memendam cinta. Seperti seorang bidadari yang tengah mencumbui pepasir dan pantai. Kau sapa pasirnya, kau sapa ombaknya, kau sapa buihnya.

Pada satu bidang pasir basah kau baca sajakku

    Wahai ombak bersusulan tiada henti
    sampaikan pesanku kepada samudera
    saksikan olehmu aku pernah di sini
    untuk sesaat
    dan untuk sesaat kemudian pergi
    bersama kenangan akan keindahanmu
    keindahan ini

Lalu air laut menerjang menghapusnya. Kau tertawa. Apa yang kau tertawakan? Tidak ada. Sesuatu yang baru saja tercipta hilang begitu saja tergerus oleh air itu. Namun aku tidak menyesalkan itu semua. Biarlah itu menjadi penanda, ombak benar-benar telah menyampaikan pesanku kepada samudera.

Kita duduk kembali. Pada sebidang pasir yang sama, pada pahatan pasir yang sama. Kau tidak menyadari pahatan itu tercipta untukmu (atau kau pura-pura tak menyadarinya?) Aku bertanya, ”Mengapa untuk mengatakan satu kalimat sederhana ini saja kadang kita tidak bisa.” Tentu saja yang kumaksud adalah pahatan pasir itu. ”Apakah dengan mengatakan kalimat sesederhana itu, seseorang telah mempertaruhkan segalanya, dirinya, demi sesuatu yang mungkin dinamakan cinta. Dengan mengatakan kalimat yang padahal sederhana itu, seseorang telah menjadikan diri sebagai pengagum, pemuja, pencinta, penghamba, subordinat dari  seseorang yang lain. Seberat itukah beban yang harus ditanggung oleh seseorang yang telah mengatakan kalimat sederhana itu kepada orang yang memang benar-benar dicinta. Aku tidak takut untuk mengatakan kalimat sederhana itu padamu. Aku tidak takut mempertaruhkan segalanya untuk mengatakan itu. Aku rela untuk menjadi pemujamu. Aku rela untuk menjadi pengagummu. Karena sungguh aku memang memujamu, mengagumimu, mencintamu. Tapi bukan ini saatnya, bukan saat seperti ini. Belum waktunya. Biarlah pahatan pasir itu cukup menjadi pertanda, menjadi isyarat (aku berharap kau menyadarinya kelak). Pun jika kau sadar sejak semula, tanda-tanda itu sudah lama aku tunjukkan dalam rentang perjumpaan-perjumpaan dan peristiwa lalu.

Kau ceritakan kisahmu. Seorang perempuan yang tengah gamang dengan hatinya. Apakah ia tengah mencinta ataukah ini hanya hasrat sesaat saja. Karena perjumpaan yang begitu sering, karena rasa, karena perhatian, karena... karena kau tengah suka. Bukan aku orang itu. Kau ceritakan kisahmu itu. Aku rela untuk mendengarnya. Jika nantinya kau tahu, jangan pernah kau khawatirkan perasaanku, jangan khawatirkan kesakitanku. Ketika seorang pecinta telah memutuskan untuk memilih mencinta seseorang, ia akan menerima apapun resikonya. Tapi jangan kau pedulikan aku. Usaikan saja kisahmu. Mungkin aku hanyalah fragmen dalam kisahmu itu.

Usaikan saja. Seperti telah kau usaikan kisah kita di pantai siang itu.

Matahari telah beranjak turun ke belahan langit barat, meski masih tersisa sedikit panasnya. Ia dibelakang punggung kita yang tengah menatap lautan lepas. Kita pun berdiri, melangkah pergi. Waktu kita telah usai. Waktuku telah usai. Seindah apapun itu, mengapa akhir pasti ada.

Ini adalah sebuah saat ketika kau berharap waktu berhenti, dan akhir tidaklah ada. Kebersamaan, kebahagiaan, kesenangan, pasti suatu saat dan itu pasti, akan ada saat akhir. Pun kebersamaan dan kesukacitaanmu dengan mereka. Mereka yang telah menjadi temanmu di sini, di sebuah tempat yang jauh dari asalmu, di sebuah desa dimana laut begitu dekat hingga setiap waktu kau bisa saja menyambanginya.

Namun akhir bisa menjadi sebuah awal. Awal dari sebuah kisah yang hanya menghuni imagi dan pikiranmu tentang saat dan peristiwa yang kau rangkai sendiri ketika akhir tidaklah ada.

Awal kisah itu telah dimulai dan kini tengah menghuni pikiranku, menciptakan dunianya sendiri. Peristiwa-peristiwa, kata-kata. “Lihatlah ini, ku pahat ini untukmu, ini adalah perasaanku, aku mencintaimu,” kataku dalam dunia awal itu dalam pikiranku.

Ah, namun pahatan pasir itu telah terkoyah, tidak lagi utuh. Kakimu telah menginjaknya, memburaikannya kembali menjadi pasir-pasir tak berarti. Bukan salahmu. Kau tidak tahu. Kau tidak bersalah, jangan pula kau merasa bersalah.

Sebab angin mengaburkan debu-debu dan pepasir. Ombak membawa serta buih dan pepasir basah, menyambangi lukisan itu. Namun aku yakin, jejak itu masih ada. Jejak keberadaanku dan seorang perempuan yang kepadanya aku memendam cinta. Tanyalah pada ombak dan pasirnya. Ia pernah menyaksikan keberadaanku di sana. Dengan seorang perempuan yang kepadanya aku memendam cinta.

    ***

Pagi telah beranjak ketika aku dibangunkan oleh suara deburan ombak yang terdengar begitu dekat. Pada sebuah meja bekas tempat orang jualan di tepi pantai, di bawah pohon kelapa itu aku tidur semalam. Tak kurasakan dingin yang begitu menusuk, hanya sepasukan nyamuk menyerang setiap titik kulitku yang tak tertutupi oleh jaket, sarung tangan dan kaos kaki.

Adalah buih yang menari-nari bertalian di ujung gelombang yang pertama kali aku lihat ketika aku membuka mata di pagi itu. Tak ku sangka, pantai ini begitu indah. Semalam aku  hanya melihat garis-garis putih yang membelah hitam cakrawala. Andainya aku tak mendengar suara deburnya yang bergemuruh, mungkin aku tidak akan tahu kalau itu adalah pantai. Begitu dekat. Dengan langkah sekali nafas kau akan dapat mencium lidah gelombangnya.

Aku terdiam sesaat, mencoba mengumpulkan rohku yang semalaman berpencar entah kemana.  Sambil mengingat-ingat mimpi dan kilasan-kilasan peristiwa yang semalam terjadi, entah itu nyata ataukah bayangan saja.

Semalam aku harus berpisah dengannya, seorang perempuan yang kepadanya aku memendam cinta. Aku harus melanjutkan hidupku kembali di suatu tempat jauh dari tempat ini jauh dari desa ini, sedang dia masih harus tinggal di sini dengan tugas dan kewajibannya. Kata itu belumlah terucap, hanya terbaca lewat barisan kata-kata.

Semalam aku menyambangi Pangandaran sendiri, berteman kesunyian. Gegaris putih ombak berkejaran membelah cakrawala hitam. Deru dan gemuruh memecah keheningan malam. Titik-titik cahaya menggantung di langit kelam.

Ini perjalananku, ini pengembaraanku, ini kisahku.

Lalu ku sapa lidah air, ”Akhirnya kita bertemu.” Kubiarkan kakiku yang telanjang dijilatinya, dibasuh, dibelai oleh butiran-butiran pasir halus yang terbawa. “O..betapa luas samuderamu, betapa hening kedalamanmu.”

Bolehkah pagi ini aku larung kerinduanku di pantaimu, biar ia terbawa gelombangmu, terhempas sampai ke tepian sana, entah di mana hingga aku tak perlu terpenjara dalam kerinduan ini, kesakitan ini. Biar ia dimakan ikan-ikan, kandas bersekutu dengan karang-karang, dan musnah. Namun jangan biarkan ia menjadi badai. Jangan biarkan rinduku menjadi badai.


*) dibuat dengan ingatan mendalam di Pengandaran, Awal Juli setahun yang lalu.




dikirim pada 06:30 pm Sudah ada (1) Komentar

Tuesday, June 20, 2006
Tahi Lalat di Perempatan Jalan

Oleh : Adi Toha

Bocah lelaki itu menggenggam tangan legam kakeknya yang tengah melangkah tergesa menyusuri jalanan kota yang baru saja bangun menyambut udara pagi.

“Mau kemana kita, Kek?” tanyanya.

”Tidak kemana-mana. Kita mau menemui ibumu.” jawab kakeknya singkat.

”Ibu? Apakah aku punya ibu?”

”Punya. Ibumu itu orang kaya. Jika kau sudah bertemu dengannya, kau tidak usah mencari duit lagi di perempatan-perempatan kota menjual suaramu yang jelek itu.”

”Benar, Kek?” tanyanya lagi, tersungging seulas senyum kecil di wajahnya.

”Kakek tidak pernah bohong. Kemarin kakek melihat ibumu dijemput dengan mobil oleh orang berjas dan berdasi. Kakek yakin sekali kalau itu ibumu. Ibumu ada di kota ini, Lul.” kata orang tua itu. Lul adalah panggilan cucunya, namanya Pailul. ”Dan ibumu sudah menjadi orang kaya.” tambahnya lagi.

    ***

Sebuah mobil sedan hitam melintas dan berhenti tepat di sebuah perempatan jalan.  Lampu perempatan menunjuk warna merah. Seorang lelaki tua bergegas menghampiri dengan langkah pincangnya sebuah mobil sedan berwarna hitam. Lelaki tua itu menyodorkan sebuah mangkuk plastik yang sudah lusuh di samping kaca mobil. Dengan tampang memelas khas pengemis ia meratap dan merintih-rintih menandai kelaparan dan kesusahan hidupnya agar siapapun yang berada di dalam mobil menjadi iba.

Tak lama kaca samping mobil bagian belakang diturunkan sedikit, dan sebuah tangan terjulur meletakkan selembar uang seribuan ke dalam mangkuk lusuh pengemis tua. Sesaat lelaki tua menunduk-nunduk berterima kasih kepada pemilik tangan yang terjulur itu. Lelaki tua itu tidak jelas benar melihat siapa yang ada di dalam mobil, kaca hitam mobil menyamarkan penglihatannya. Pun, siapapun yang ada di dalam mobil tidak akan jelas melihat wajah lelaki tua yang separuh terbenam topi lusuhnya. Namun sesaat kemudian lelaki tua itu terpaku, terkaget menyadari sesuatu yang dilihatnya pada tangan yang hendak dimasukkan kembali ke dalam mobil. Sebuah tahi lalat hitam besar, tepat di atas pergelangan tangan. Lelaki tua itu diam tak bergerak. Tahi lalat itu. Ia teringat seseorang.

Tanpa sadar dan seketika, tangan pengemis tua itu hendak meraih tangan bertahi lalat itu. Namun, lampu perempatan yang menyala hijau membuat mobil sedan itu segera melaju. Pengemis tua itu hanya terdiam, memandangi mobil hitam itu melaju jauh, semakin jauh. Ia sempat mengingat nomor mobilnya.

Suara klakson mobil mengagetkan lamunannya. Ia bergegas menepi, melangkah ke sebuah toko di dekat perempatan untuk mencari jam dinding.

Pengemis tua melihat jarum jam menunjuk angka 3:35 sore. Ia mengangguk. Bergegas ia melangkah menyusuri jalanan dan menghilang di sebuah gang sempit beberapa menit kemudian.

Keesokan harinya di jam yang sama, ia telah berdiri di perempatan jalan yang sama, menunggu, berharap mobil sedan hitam yang sama yang melintas sehari sebelumnya kembali melintas, meski kemungkinan untuk itu sangat lah kecil, banyak sekali mobil-mobil sedan dan banyak sekali jalan-jalan di kota itu. Sangatlah sulit menggantungkan harapan kepada sesuatu yang tidak pasti, yang kemungkinan keterjadiannya sangat kecil daripada ketidakterjadiannya. Demikian juga pengemis tua itu. Ia mulai resah dan tidak sabar menunggu. Sejak jam menunjuk angka yang sama yang dilihatnya sehari sebelumnya, ia tidak beranjak dari berdirinya. Beberapa lampu merah dibiarkannya. Ia tidak mengais belas kasihan pengemudi yang berhenti di saat beberapa lampu merah itu menghentikan mereka. Ia hanya menunggu sebuah mobil, mobil sedan hitam.

Kesabaran, kegigihan dan keyakinan lah yang mengubah jalannya waktu. Entah pada lampu merah keberapa matanya melihat sebuah titik hitam yang meluncur dari kejauhan mendekatinya, dan lamat-lamat berhenti di barisan paling belakang. Mobil sedan hitam itu ada di sana. Meski dari kejauhan, mata pengemis tua itu masih bisa mengenali bentuk-bentuk angka yang menempel di bemper depan mobil sedan hitam itu. Angka yang sama yang dilihatnya sehari sebelumnya. Ia bergegas melangkahkan kakinya menghampiri mobil itu sambil berharap lampu merah menyala lebih lama hingga cukup waktu baginya untuk mengetuk jendela mobil sedan hitam itu.

Takdir terkadang mempermainkan harapan dan keinginan dengan kebetulan-kebetulan dan keterjadian-keterjadian sesaat hanya untuk menjadi hilang keesokan harinya. Tepat ketika langkahnya telah sampai di samping pintu kemudi sedan hitam itu, lampu perempatan menyala hijau dan satu persatu mobil melaju kencang. Mulanya pengemis tua itu sempat mengetuk-ketuk pintu belakang sedan hitam itu sambil berjalan mengikuti laju lamat-lamatnya sedan hitam itu. Ia berteriak-teriak memanggil nama Mar.. Mar...Mar. Namun setelah tidak ada mobil lagi yang ada di depannya, sedan hitam itu melaju kencang meninggalkan pengemis tua yang masih berteriak-teriak. Kini ia sembari berlari, di tengah jalan tak mempedulikan klakson-klakson mobil yang ada di belakangnya.

    ***

Sebuah pintu jeruji besi tinggi berwarna putih membuka digeser oleh seorang lelaki kekar berkumis berseragam satpam. Sebuah mobil sedan berwarna hitam berbelok memasuki halaman dan berhenti tepat di lobi di depan pintu rumah bertingkat dua yang mewah. Seorang lelaki berpakaian jas rapi menenteng sebuah tas di tangan kirinya keluar dari pintu kemudi dan melangkah untuk membuka pintu belakang. Dari pintu itu keluar seorang perempuan dengan pakaian kantor lengkap berwarna abu-abu dan kemeja dalam berwarna putih. Lelaki dan perempuan separuh baya itu bergandengan tangan mesra masuk ke dalam rumah.

Malam itu terjadi pembicaraan di meja makan. Sang suami menanyakan tentang pengemis tua yang bertingkah aneh di perempatan jalan. Sang Istri menanggapi dengan pura-pura tidak tahu menahu dan lupa dengan kejadian di siang hari itu.

”Apa? Pengemis tua? Pengemis tua yang mana, Pa?” kata sang Istri balik bertanya.

”Pengemis tua yang di perempatan jalan tadi siang, yang mengetuk-ketuk kaca mobil sambil teriak-teriak itu loh, Ma. Masa sih mama lupa.” ujar sang suami.

”Ooh, yang itu. Memangnya kenapa, Pa?”

”Apakah mama mengenalnya?”

”Tidak.” Jawabnya singkat. ”Bi Iyah, ambilkan air putih lagi, Bi.” serunya. Seorang perempuan yang dipanggil Bi Iyah pun datang tergopoh-gopoh membawa segelas air putih.

”Gimana, Pa, kalau ulang tahun perusahaan papa bulan depan kita rayakan dengan membagi-bagikan sembako kepada para pengemis jalanan dan anak-anak gelandangan.” usul Sang Istri mencoba membelokkan arah pembicaraan.

”Bagus. Usul bagus itu, ma.” Sang suami mengiyakan.

    ***

Hari selanjutnya di jam yang sama saat sedan hitam itu melintas di perempatan jalan yang sama, pengemis tua itu menunggu. Kali ini ia tidak sendirian. Seorang bocah lelaki berada di sampingnya. Terkadang, saat lampu perempatan berwarna merah, bocah lelaki itu menghampiri mobil-mobil yang berhenti dan menyanyi dengan suaranya yang melengking. Suara kerincing rangkaian tutup botol kecap yang dibuat gepeng dan dipaku pada sebuah tongkat pendek mengiringi nyanyiannya. Tangan-tangan dermawan terjulur dari balik kaca-kaca mobil. Di saat lampu perempatan berwarna hijau, bocah lelaki itu kembali berada di samping pengemis tua yang berdiri memandang jauh menunggu mobil yang ditunggunya.

Dua hari berturut-turut ia melihat mobil itu melintas di depannya. Tidak menutup kemungkinan mobil itu akan melintas untuk ketiga kalinya, pikirnya. Untuk yang ketiga kalinya ini, ia bertekad tidak akan gagal. Ia akan mempertemukan bocah lelaki cucunya dengan ibu kandungnya.

Sepuluh tahun berlalu sejak ibu kandung bocah lelaki itu pergi meninggalkan bayinya karena tidak kuasa menahan aib melahirkan anak tanpa suami. Saat itu bayinya belum berumur satu tahun. Jadilah lelaki tua ayah ibu bayi itu yang mengasuh cucunya sendirian –istrinya telah lama meninggal. Dan selama itu tidak pernah ada kabar dari ibu bayi itu.

Tiga tahun yang lalu lelaki tua dan cucunya itu mengadu nasib ke ibukota, sebuah pilihan yang menurutnya tepat. Lelaki tua itu tidak ingin membesarkan cucunya sementara orang-orang di kampungnya masih belum menerima keberadaan cucunya yang terlahir tanpa seorang bapak. Ia tidak ingin cucunya mendengar sebutan ”anak haram” dari siapapun, entah teman-teman sepermainannya ataukah orang-orang tetangganya. Ia yakin, suatu saat sebutan itu akan keluar juga dari mulut-mulut mereka meskipun telah ada ia telah meminta mereka untuk menjaga rahasia itu dari cucunya.

Perempatan jalan menjadi tempatnya bekerja mencari sesuap nasi. Lelaki tua itu tidak mempunyai keahlian apa-apa selain mimik wajahnya yang memelas yang membuat siapapun iba jika melihatnya. Kerasnya kehidupan jalanan akan mendewasakan siapapun. Di sana lah ia berharap cucunya akan belajar. Belajar untuk menanggung beban kehidupan, belajar untuk menerima omongan-omongan tidak mengenakkan dari orang-orang, belajar untuk berdiri, belajar berjalan dan berlari dengan kaki dan usaha sendiri. Ia berharap cucunya akan siap menerima jika suatu saat kenyataan tentang asal-usul dirinya terucap, entah dari mulutnya sendiri atau dari mulut orang lain.

Di jalanan pula lah lelaki tua itu menggantungkan harapannya untuk dapat mempertemukan kembali cucunya dengan ibunya, anak perempuan satu-satunya.

    ***

Beberapa jam telah berlalu dari jam yang sama saat sehari sebelumnya lelaki tua itu melihat kembali mobil sedan hitam melintas di perempatan jalan itu. Harapannya pupus. Hari itu dia tidak melihat mobil hitam itu melintas lagi. Ia masih dengan sabar menunggu sampai matahari perlahan merendah membawakan senja. Saat hari telah mulai malam, ia pun menyerah dan melangkah pergi menggandeng bocah lelaki kecil yang meronta-ronta ingin berjalan dan berlari sendiri.

Esoknya, di perempatan jalan yang sama, lelaki tua itu kembali terlihat. Kali ini ia tidak berdiri diam sementara matanya menerawang jauh menunggu sesuatu. Ia kembali melakukan apa yang biasa dilakukannya, menghampiri pengendara-pengendara mobil yang berhenti di perempatan dengan menggunakan wajah memelasnya. Ia sudah tidak begitu mengharapkan lagi kedatangan mobil sedan hitam melintas di perempatan itu. Banyak sekali mobil di Jakarta, juga banyak sekali perempatan di Jakarta, mobil hitam yang dilihatnya beberapa hari yang lalu mungkin saja melewati perempatan yang lain, pikirnya. Atau mungkin saja ia telah tertipu oleh penglihatannya sendiri, menyangkanya melihat tahi lalat di pergelangan tangan seseorang yang sebenarnya tidak ada.

Namun rupanya nasib masih ingin mempermainkan harapan lelaki tua itu. Tanpa sengaja, lelaki tua itu melihat sebuah mobil sedan hitam yang kemarin ditunggunya baru saja berhenti di depan sebuah toko sembako di dekat perempatan. Harapan kembali memenuhi dadanya.

Seorang lelaki berjas rapi keluar dari dalam mobil hitam itu, disusul seorang perempuan. Ia tidak mengenali keduanya, wajah mereka tampak asing. Perlahan dan hati-hati ia mencoba mendekati dan menyelidiki apakah di tangan perempuan itu terdapat sebuah tahi lalat yang selama ini mengganggu pikirannya. Kekecewaan segera melanda lelaki tua itu saat dengan sangat jelas ia tidak melihat satu pun tahi lalat yang menempel di pergelangan tangan si perempuan.

Lelaki tua itu masih duduk terdiam di trotoar dekat mobil sedan hitam itu saat kedua orang yang diperhatikannya berjalan hendak masuk kembali ke mobil mereka. Tanpa diduga, sang perempuan berjalan menghampirinya dan memasukkan selembar uang seribuan ke dalam mangkuk plastik lusuh yang tak sengaja digeletakkan di samping tempat duduknya. Lelaki tua itu kembali melihat di pergelangan tangan perempuan itu ia tidak melihat satu tahi lalat pun.

Perempuan itu pun berlalu memasuki mobil hitam yang segera berjalan meninggalkannya. Lelaki tua hampir saja mempercayai bahwa ia telah terpedaya oleh ilusinya sendiri akan tahi lalat di pergelangan tangan perempuan.

Entah angin apa yang membuat lelaki tua itu tiba-tiba berdiri, memanggil salah satu tukang ojeg yang kebetulan berada tidak jauh dari tempatnya. Bergegas ia naik dan menyuruh tukang ojeg agar diam-diam mengikuti mobil sedan hitam yang belum jauh meninggalkannya. Tukang ojeg terheran-heran, namun ia tetap saja menjalankan motornya mengikuti mobil hitam sesuai kemauan lelaki tua. Lelaki tua itu tampak sangat yakin dengan apa yang dilakukannya.

***

”Kemarin Kakek melihat sendiri rumah ibumu. Kakek tidak bohong, ibumu punya rumah gede, Lul.” ujar lelaki tua itu bersemangat.

Sehari sebelumnya, setelah lelaki tua itu membuntuti mobil hitam, ia melihat mobil itu berhenti di depan sebuah pusat pertokoan besar. Sepertinya mobil itu tengah menunggu seseorang. Tak berapa lama seorang perempuan usia tiga puluhan yang membawa banyak barang belanjaan terlihat menghampiri mobil itu dan masuk ke dalamnya. Saat tangan kanan perempuan itu hendak menutup pintu mobil, untuk sesaat lelaki itu melihat sesuatu yang selama berhari-hari mengganggu pikirannya. Sebuah tahi lalat hitam besar di pergelangan tangan perempuan itu. Ia mengenal perempuan itu.

”Kek, apakah rumahnya masih jauh?” tanya sang bocah.

”Sabar, Lul. Sebentar lagi sampai. Kau lihat rumah yang berpagar besi di sebelah sana? Nah, ibumu tinggal di rumah itu.” lelaki tua itu menunjuk ke sebuah rumah beberapa ratus langkah di depannya.

”Waaah.” wajah sang bocah semakin berseri-seri, bukan karena ia akan bertemu dengan ibu kandungnya sendiri, namun lebih karena kekagumannya akan rumah besar yang ditunjukkan kakeknya. Ia membayangkan hal-hal menyenangkan yang akan ditemui dan didapatnya di sana.

”Nah, kita sampai, Lul. Kita akan bertemu ibumu,” kata sang sang kakek dengan senangnya.

Sang kakek memencet bel yang ada di sebelah pintu pagar. Seorang perempuan datang menghampiri. Perempuan yang sama yang dilihatnya tempo hari yang telah memberinya selembar uang ribuan. Ia masih mengenakan pakaian olahraga pagi. Sepertinya ia baru saja berolahraga di halaman rumahnya.

”Permisi, Bu. Apakah di sini ada yang namanya Mariyah?” tanya lelaki tua itu sopan.

”Mariyah? Ooo, Bi Iyah. Ada. Bapak siapa?” tanya perempuan itu.

”Saya bapaknya. Dan ini Pailul, anak lelakinya.”

Perempuan itu terkejut. Ia segera berseru memanggil Bi Iyah, pembantu rumah tangganya yang sepuluh tahun lalu ia dapati tengah meratap-ratap kelaparan dan kesakitan di depan pagar rumahnya.

Jatinangor, 24 – 26 Mei 2006




dikirim pada 08:01 am Sudah ada (1) Komentar

Monday, June 19, 2006
Selepas Pulang



Luka di punggungku selalu mengingatkan aku pada ibuku. Bukan karena luka itu adalah bekas sabetan parang darinya, atau bekas cambukan bilah bambu saat ia murka. Luka itu adalah luka karena bisa ular beracun yang tanpa sengaja melekat di punggungku saat aku berenang di kali. Mulanya luka itu  hanyalah luka kecil sebesar upil yang menempel di punggungku. Semakin hari membesar, menjadi pulau naga melingkar di lautan punggungku.

Aku menyebutnya pulau naga melingkar karena memang seperti itulah kata ibuku bentuk lukaku. Katanya, jika tidak segera diobati, luka itu akan semakin membesar, melingkari perut dan dada. Jika itu terjadi, kematian akan segera datang menjemputku.

Karena ibuku lah, aku masih hidup sampai kini. Luka di punggungku segera ia obati

Masih aku ingat nyeri di punggungku yang tak terlukiskan saat ia menggosok lukaku dengan daun aneh, aku lupa namanya. Bentuk daun itu seperti daun jambu. Aku membayangkan ibuku tengah memarut kelapa saat ia menggosok punggungku dengan dedaunan itu. Punggungku adalah parutnya, dan dedaunan dalam genggaman tangannya adalah kelapanya. Tangannya menguning, tercium bau belerang yang dicampur dengan minyak tanah agar khasiat daun itu cepat menutup lukaku yang semakin membesar. Terasa panas. Punggungku terbakar. Aku hanya bisa berbaring sambil menggigit bantal sekuatnya.

Semua itu terjadi hampir tiap malam selama sebulan, sampai luka itu mengering, menjadi sebesar telapak tangan.

Lukaku memang aneh. Pernah aku memeriksakannya ke puskesmas, tetapi pak mantri hanya geleng-geleng kepala. Mungkin itu alergi, katanya. Ia segera memberiku obat alergi. Tetapi seminggu setelah itu, luka di punggungku masih tetap tidak mengering, bahkan semakin membesar. Lalu aku ke puskesmas lagi. Mungkin itu penyakit kulit karena jamur dan bakteri, kata pak mantri lagi. Ia segera memberiku bermacam obat antiseptik, salep, bedak dan obat lainnya. Tetap saja luka di punggungku tidak jua membaik. Hingga aku malas ke puskesmas lagi, pun ke rumah sakit.

    ***

Sudah beberapa hari ini aku dilanda demam tinggi. Sudah bermacam obat dari apotik aku coba, beberapa kali pula aku pergi ke dokter untuk diperiksa. Dokter mengatakan demamku demam biasa saja, dalam beberapa hari pasti sembuh. Namun, sudah seminggu lebih aku tetap merasakan demam yang tidak jua mereda.

Lalu aku teringat ibuku. Saat aku demam dan masuk angin sedikit saja, ia dengan sigap menyediakan satu uang koin besar jaman dulu dan minyak goreng, mulailah ia mengeroki punggungku. Terasa nyeri memang, namun keesokan harinya demam dan masuk anginku sembuh, aku pun kembali segar dan siap berangkat sekolah.

Ah, sekolah. Betapa menyenangkannya saat-saat itu. Selepas lulus SMU, aku melanjutkan pendidikanku di sebuah PTN di Bandung. Menjadi suatu kebanggaan tersendiri bagiku dapat berkuliah di kota besar. Kotaku hanyalah kota kecil di pesisir pantai utara jawa, dan kampungku hanyalah sebuah kampung kecil yang tidak penting keberadaannya. Aku lah mungkin satu-satunya anak dari keluarga pas-pasan yang dapat melanjutkan kuliah, dengan begitu, aku menjadi satu-satunya harapan bagi keluargaku untuk dapat mengangkat derajat hidup mereka.

Namun takdir berkehendak lain. Di kota besar itulah aku dihadapkan pada bermacam persoalan dan pilihan yang sama-sama memberatkan, sampai akhirnya aku memutuskan untuk berhenti kuliah dan mulai mencari kerja untuk membantu keuangan keluarga. Di samping, idealisme masa mudaku yang ingin menaklukkan hidup dengan caraku sendiri. Pupuslah sudah harapan keluargaku untuk dapat membanggakan anaknya menjadi seorang sarjana.

Aku sepenuhnya menyadari akan pilihanku itu dan konsekuensi yang akan aku hadapi nantinya. Syukurlah, bapakku, yang paling mengharapkan kesarjanaanku mau mengerti dan menyadari pilihanku itu. Sejak itu lah, aku mulai tidak pulang ke rumah selama beberapa bulan, bahkan tahun. Namun, secara rutin aku mengirim sejumlah uang untuk sekedar membayar biaya sekolah keempat adikku. Aku berjanji kepada diriku sendiri, aku tidak akan pulang dengan membawa kekalahan, aku akan pulang mempersembahkan kemenangan.

Lima belas tahun sudah aku meninggalkan kampung halaman dan keluargaku. Selama itu pula banyak tempat aku singgahi, banyak peristiwa aku alami. Kesusahan, penderitaan, kelaparan, bagiku hanyalah ujian. Aku tidak pernah menyesalinya. Bagaimanapun itu adalah konsekuensi atas pilihan yang aku ambil. Pahit memang, namun sepahit dan seberat apapun yang aku alami, aku tidak pernah mengeluh, apalagi mengeluarkan air mata. Pun ketika akhirnya aku mendarat di Jakarta dan kota itu menghempas dan menggencetku dari berbagai sisi, aku mencoba untuk tetap bertahan dalam pengembaraan mencari sejumput kemenangan yang ingin aku persembahkan. Toh, sedari kecil aku telah terbiasa dengan penderitaan dan kemiskinan, kehidupan telah menempaku begitu dalam.

Hasilnya, kini aku menjadi seorang petinggi di salah satu LSM yang aktif mengkritisi kebijakan pemerintah dan aku telah menulis beberapa buah buku yang cukup laku di pasaran. Dengan beberapa orang kawan aku juga mengotaki banyak aksi buruh dan mahasiswa. Konsekuensinya, berkali-kali aku ditangkap dan dijebloskan ke penjara meski akhirnya dilepaskan lagi. Keluar masuk penjara bukanlah hal yang menakutkan lagi bagiku. Sama halnya dengan keluar masuk kantor-kantor pejabat tinggi pemerintah, dari kantor Bupati sampai kantor Gubernur, bahkan istana negara sekalipun. Inilah yang aku pikir sebuah kemenangan kecil, tidak semua orang sanggup melakukannya di kampungku. Bahkan, kantor kepala desa adalah tempat yang sangat suci dan agung, tidak semua orang berani memasukinya.

Dua tahun yang lalu aku mempersunting seorang perempuan pilihanku. Pernikahan dilaksanakan dengan sederhana tanpa kehadiran keluargaku. Lewat suara telepon yang diterima oleh tetangga bapakku, aku memberitahukan kabar pernikahanku itu.

Perempuan itulah yang kini tengah mengeroki punggungku karena demam yang tak kunjung sembuh. Ia menanyakan bekas luka yang berbentuk seperti naga melingkar sebesar telapak tangan di punggungku. Aku mulai bercerita dan kembali teringat dengan jelas wajah ibuku yang mungkin sudah mulai merenta.

Ibu, maafkan aku telah mendurhakaimu. Sungguh tak pantas aku menjadi anakmu. Kau yang telah melahirkan dan membesarkan aku dengan segala kasih sayangmu. Sementara aku membalasnya dengan keegoisan dan kesombonganku sendiri, merasa bahwa aku mampu menaklukkan hidup dengan tangan dan caraku sendiri.

***

Pagi itu tubuhku terasa segar. Kerokan istriku semalam rupanya manjur. Segera aku memesan tiket kereta. Malam lepas isya kereta tiba di stasiun kotaku. Kota yang aku pijaki kini terasa asing bagiku (atau aku asing baginya?) Aku segera menggandeng istriku naik angkutan kota menuju ke rumahku. Semoga saja jalurnya masih seperti lima belas tahun yang lalu. Dadaku serasa tak kuasa menahan rasa rindu yang kian membuncah.

Turun dari angkutan kota, aku masih harus naik ojeg untuk sampai di rumah. Dua ojeg aku sewa. Kira-kira setengah jam kami sampai. Aku melihat dari sudut mataku orang-orang desa yang kebetulan berada di luar rumah melirik dan memandangku. Mereka heran dan penasaran dengan kedatanganku. Mungkinkah mereka masih mengenalku? Semoga saja mereka tidak berpikiran macam-macam terhadapku.

Lama aku berdiri terpaku memandangi rumah bambu yang berdiri di tepi sebuah jalan desa. Itu rumahku, masih seperti lima belas tahun yang lalu. Rumah itu menungguku untuk menggantinya dengan rumah tembok, seperti rumah-rumah lainnya. Ada perasaan bersalah yang menyentak begitu tiba-tiba.

Aku melangkahkan kaki memasuki halaman rumah yang sempit. Pintu aku ketuk perlahan, dari celah jendela yang tertutup kain, aku melihat seseorang datang membuka pintu. Pintu terbuka, aku melihat ibuku di sana, mematung. Aku segera bersujud menyentuh kakinya. Tak terasa air mataku keluar perlahan. Ibu memelukku, aku melihat air matanya mengalir membasahi pipinya. Air mata kerinduan, air mata kebahagiaan. Sedangkan air mataku, air mata penyesalan, air mata bersalah. Lalu bapakku muncul dari belakang ibu, juga adik-adikku, mereka sudah besar, hampir saja aku tak mengenali mereka. Aku peluk mereka satu persatu. Aku bersujud bersimpuh di hadapan bapakku, menangis.

Segera setelah ritual pertemuan kembali itu, aku mengenalkan istriku kepada keluargaku. Tidak ada sesuatu yang berarti yang menghambat komunikasi mereka. Meski mulanya agak canggung, dengan cepat masing-masing menyesuaikan diri. Cerita-cerita pun mulai meluncur dari mulutku.

Wajah ibuku telihat berseri, kebahagiaan terpancar dari wajahnya. Kebahagiaan bertemu kembali dengan anaknya yang telah lama pergi tidak kembali, juga kebagiaan seorang ibu yang mendapati anaknya telah menemukan pasangan hidup.
Malam itu seluruh keluargaku berkumpul melepas kerinduan denganku. Kisah-demi kisah aku ceritakan. Meski sebagian besar adalah kisah masa-masa pahitku, aku menceritakannya sembari riang dan tertawa. Benar kata orang bahwa penderitaan dari dekat adalah tragedi, tetapi dari jauh adalah parodi. Ya, masa-masa pahit dan kesengsaraan yang pernah aku alami selama lima belas tahun itu aku ceritakan bagai sebuah parodi.

Lalu aku melihat air mata ibuku kembali menggenang. Aku terkesiap. Air mata yang aku lihat di pelupuk matanya bukanlah air mata kebahagiaan, tetapi air mata kesedihan, air mata kehilangan, air mata penderitaan, air mata bersalah.  Aku tertegun sesaat, tak sanggup berkata-kata lagi, ceritaku terhenti. Spontan aku meminta ijin untuk ke kamar mandi.

Pintu kamar mandi dengan cepat aku buka, aku masuk dan menguncinya rapat. Seketika air mataku tumpah tak terkendali, bukan air mata kebahagian akan pertemuan, bukan air mata akhir kerinduan, tapi air mata penyesalan yang sangat, penyesalan yang begitu dalam. Aku menangis seperti anak kecil, berteriak tanpa mengeluarkan suara, hanya air mata yang semakin membanjir. Kedua tanganku bertumpu di pinggir bak mandi, bercermin melihat wajahku sendiri, wajah pendurhaka.

Tiba-tiba, bekas luka di punggungku terasa sangat panas, membakar.

Jatinangor, 13 Mei 2006



Catatan :

"Selepas Pulang" adalah cerpen yang aku ikutkan dalam Apresiasi Prosa Srikanda dengan tema "Lelaki Yang Meneteskan Air Mata" di Milis Apresiasi-Sastra (Apsas), April-Juni kemarin.

Alhamdulillah, dari 40 peserta, aku berhasil didudukkan oleh para dewan juri di posisi 20, posisi paling buncit di Top Twenty yang akan mendapat hadiah buku.

Berikut nilai dan komentar para juriwati APS atas "Selepas Pulang" :

Nilai : 6,8
Komentar : Ingat sinetron “Aku Ingin Pulang”..ending melegakan, karena saya salah tebak. (
Rini Nurul Badariah)

Nilai : 7.5
Komentar : Cerpen yang mencoba menggabungkan simbol luka dengan kehidupan sang tokoh. Simbol luka tsb di endingnya tersa bagus dan bukan tempelan. Tetapi cerpen ini nampaknya juga buru2 ingin selesai atau buru-buru "ingin menangis" sehingga emosi ketika ibu menangis kurang terolah. Demikian juga emosi ketika si tokoh menangis.
(Labibah Zain)

Nilai : 7.5
Komentar : Cerita Adi menarik. Pembaca(aku)ikut hanyut dalam kesedihan yang ia kisahkan. Memakai tema dengan baik.
(Mila Duchlun)

Nilai : 7
Komentar : lima belas tahun tak pulang ke kampung kelahiran, sungguh tak terbayangkan. Meski tokoh ‘ Aku ‘ selalu mengirimi keluarganya sedikit uang untuk meringankan beban orang tuanya, toh ia selalu merasa belum mampu menjadi anak yang berbakti. Malah mencap dirinya sendiri sebagai anak durhaka. Sebuah pergulatan ‘ hati ‘ yang beratttt...
(Rida Fitria)

Nilai : 7,5
(Ana Mustamin)

Nilai : 6.00
(Mindo Meiniar Arriany)

Nilai : 7,7
Komentar : Cerpen yang lancar, meski saya tidak terlalu suka dengan cerpen yang terlalu monoton begini. Mungkin ini adalah gaya bahasa sang penulisnya.
(Anjar Anastasia)

Nilai : 6,7
Komentar : Cerita kurang fokus. Pertama kupikir akan bercerita tentang luka yang diperkenalkan di awal. Tapi kemudian, ada kisah si tokoh pergi merantau, melupakan orangtua dan kampung halaman selama 15 tahun. Kisah haru saling bertangisan saat bertemu, tidak menceritakan sebuah konflik, hanya pertemuan biasa setelah sekian lama, namun rasanya air mata si tokoh terlalu didramatisir. Lalu kisah luka di punggung kembali muncul di akhir cerita, apakah hanya simbol belaka? Ada juga kesalahan berbahasa, penulisan dengan artikel lah, ditulis dipisah, seharusnya disatukan. (
Ita Siregar)

Nilai : 6,6
Komentar : Bagi saya, agak membingungkan. Alur pembukanya menarik, tapi kemudian jalan ceritanya seakan tergelincir oleh keharusan memenuhi tema inti (lelaki yang menangis). Terkesan tiba-tiba, tak ada unsur sebab-akibat. Namun, eksplorasi bahasa-watak-tokoh sudah cukup bagus. (Fati)

Nilai : 7,4
(
Anindita)

Nilai : 7,1
Komentar: Lucu
(
Rita Achdris)

Nilai : 7,0
Komentar : Sebenarnya saya agak bosan membaca penuturan yang sepertinya tak akan ada habisnya dalam cerpen ini. Tapi ternyata ending-nya cukup bagus. Saya suka dengan adanya penyimbolan luka itu. Cukup unik, meskipun seharusnya dipercantik dan dibuat lebih menarik, terutama di bagian-bagian depan dan tengah cerita. (
Melody Muchransyah)

Nilai : 6.6
Komentar : Cerita ini terasa datar. Awalnya ketika Adi memulai ceritanya dengan luka sebesar pulau naga yang tak kunjung sembuh, saya membaca dengan tak sabar (wah misterius nih!). Tapi setelah ringkasan singkat perjalanan hidup si tokoh aku semua berubah jadi datar. Jadi Di, maksudnya apa ya luka di punggung itu? (
Feby Indirani)

Nilai : 6,7
Komentar : Sebenarnya ceritanya telah cukup menyentuh di bagian pertemuan "aku" dengan ibunya setelah berbelas tahun berpisah. Sayang, penulis tak merasa cukup dengan adegan tersebut dan merasa harus menambahnya dengan "banjir air mata" di bagian akhir yang justru membuyarkan/merusak keharuan yang telah tercipta di depan tadi. (
Endah Sulwesi - perca)


Top Twenty Apresiasi Prosa Srikanda Apsas :

* APRESIASI  Prosa bertema "Lelaki yang Meneteskan Air Mata" yang mulai dibicarakan sejak Maret 2006 akhirnya sampai pada tahap pengumuman.
 
* "Sebuah kegiatan bernuansa simbiosis mutualisme dari dua gender manusia yang berbeda," demikian tulis kang Sigit di akhir penutupan Apresiasi Prosa Srikandi akhir tahun lalu. Dan hal ini terulang kembali dalam penyelenggaraan Apresiasi Prosa Srikanda, yang melibatkan 40 cerpenis Srikanda dan 14 juriwati

* Inilah urutan Top 20 hasil penilaian dari 14 juriwati:

01. Akmal Nasery Basral - Boyon (108,3)
02. Kurnia Effendi - Sepanjang Braga (105,7)
03. Slamat P Sinambela - Aku, Kau dan Sebuah Rahasia (103,6)
04. M. Aan Mansyur - Sehari Setelah Istrinya Dimakamkan (102,8)
05. Y. Wibisono - Dalam Kuyup Gerimis (102,7)
06. Fajri Imanudin - Kulihat Gamma Menangis (102,6)
07. Firman Firdaus - Sengguk (102,3)
08. Rahmat Hidayat - Penantian Mawar Berduri (102,2)
09. Ragil Nugroho - Yang Pecah Di Bawah Purnama (101,5)
10. Setiyo Bardono - Ujian Membaca (101,3)
11. Pandu Ganesa - Malaikat Maut Yang Gagal Menjemput (100,6)
12. The Black Death - Sigit Rais (100,3)
13. Agustinus Onoy Wahyono - Secuil Cinta Ditinggal Kereta - (100,2)
14. Titon Rahmawan - Arman, Sayap Ibu dan Kematian: Mengenang Pramoedya (99,5)
15. Mang Jamal - Menjelang Lebaran (99,1)
16. Hasan Aspahani - Kisah 1.021 kata: Air Mata Tiga Lelaki (99,0)
17. Damhuri Muhammad - Keranda Kerinduan (98,8)
18. Andriansyah B - Kado Istimewa (98,8)
19. Cak Bono - Jembatan Merah (98,4)
20. Adi Toha - Selepas Pulang (98,1)


Seluruh Peserta Apresiasi Prosa Srinda adalah :

Sigit Susanto - Menuju Pulang
Hasan Aspahani - Air Mata Tiga Lelaki
Aan Mansyur - Sehari Setelah Istrinya Dimakamkan
Firdaus Siagian - Nyamuk
Slamet P Sinambela - Aku Kau dan Sebuah Rahasia
Sahlul Fuad - Mati Ketawa
Eko Sugiarto - Perempuan Tanpa Nama
Titon Rahmawan - Arman, Sayap Ibu dan Kematian
Setiyo Bardono - Ujian Membaca
Arie Saptaji - Hans, Aku dan Susu
Sang Denai - Guguak Sembahyang
Firman Firdaus - Sengguk
Asrul Dwi - Kotak Kecil Yang Bercerita
Iwan Sulistiawan - Hurt Rock
Adli Moeraindra - Anak Lelaki dan Air Mata
Ragil Nugroho - Yang Pecah Di Bawah Purnama
Cak Bono - Jembatan Merah
Stevi Sundah - Samudra Hindia Mengalirkan Air
Abdul Mukhid - Banjir
Mang Jamal - Menjelang Lebaran
Wahyu Heriyadi - Menyisir Rambut
Anwar Rizal - Kapal
Yogi Sasmita - Serat Luka
Kurnia Effendi - Sepanjang Braga
Hevi Fauzan - Goresan Hati
Yuswadi Saliya - Tamasya Senja
Damhuri Muhammad - Keranda Kerinduan
Akmal N.B - Boyon
Fajri Imanudin - Kulihat Gamma Menangis
Y Wibisono - Dalam Kuyup Gerimis
Adriansyah B - Kado Istimewa
Agustinus Onoy W - Secuil Cinta Ditinggal Kereta
Adi Toha - Selepas Pulang
Pandu Ganesa - Malaikat Maut Yang Gagal Menjemput
Gredika - Mendengarnya, Saya Jadi Membenci Bapak
Koko P. Bhairawa - Membatu
Wiku - Sebuah Senja, Di Antara Cerpen dan Resensi
Sigit Rais - Black Death
Rahmat Hidayat - Penantian Mawar Berduri
M. Ali Syamsudin - Setelah Matematika





dikirim pada 08:43 pm Tulis Komentar?

Sunday, June 18, 2006
Rumah Kosong

Cerpen : Adi Toha

Rumah kosong di ujung gang itu telah lama tidak ditempati, terlalu lama bahkan. Pemilik terakhir lebih memilih meninggalkannya, berpindah ke tempat baru yang lebih ramai. Memang rumah itu letaknya tersendiri, memisah jauh dari rumah-rumah lain di sepanjang gang, terlalu jauh bahkan. Kau harus melewati beberapa rumpun pohon bambu, lalu kau akan menemui  jalan yang di sisinya rimbunan semak, lalu sebidang tanah tempat orang-orang membuang sampah. Bau sampah busuk dan bangkai yang menyengat di sekitar tempat itu membuat orang tidak akan melewati tempat itu kecuali untuk membuang sampah.

Rumah itu memang sudah tua, tidak diketahui siapa pemilik pertama rumah itu yang pastinya dia juga lah yang membangunnya di tempat itu. Menurut kabar yang terdengar di sepanjang gang, seringkali terdengar suara-suara aneh memecah kesunyian malam, membangunkan orang dari tidur, membuat merinding bulu kuduk petugas-petugas ronda.

Orang-orang kemudian berspekulasi sendiri-sendiri perihal rumah kosong itu. Rumah kosong itu ditinggalkan penghuni sebelumnya karena banyak hantunya, demikian salah satu kabar yang terdengar. Kabar yang lain mengatakan, telah terjadi pembunuhan di rumah itu beberapa puluh tahun yang lalu, makanya rumah itu dihuni hantu. Kabar yang lain lagi, pemilik rumah sebelumnya tidak betah tinggal di rumah itu karena jaraknya yang terlalu jauh memisah dengan rumah-rumah lainnya, ditambah dengan bau busuk dari timbunan sampah dekat rumah kosong itu. Kabar yang terakhir tampaknya lebih masuk akal. Tetapi semuanya memang masuk akal mengingat rumah itu pada kenyataannya memang kosong dan sering terdengar suara-suara aneh seperti suara-suara hantu yang asalnya dari rumah itu, meski belum seorang pun yang pernah bertemu dengan hantu di sana.

Suatu hari orang-orang di sepanjang gang dikagetkan dengan kedatangan seorang lelaki asing. Orang itu berjalan tertunduk memasuki gang tanpa menoleh ke kiri dan ke kanan sedikit pun. Ia memakai setelan kain lusuh khas pemulung. Namun ia tidak terlihat seperti seorang pemulung karena ia tidak menggendong karung atau wadah barang-barang pulungan di punggungnya. Segalanya terlihat kotor kecuali wajahnya yang tampak bersih dan rambut panjangnya yang tersisir rapi diikat seperti ekor kuda. Orang-orang yang menyaksikan kedatangan lelaki itu bercerita bahwa lelaki itu tidak menoleh sedikit pun meski telah disapa dan ditanya beberapa kali. Ia seperti tidak mendengar dan melihat keberadaan orang-orang yang menyapanya. Lelaki itu terus saja berjalan menuju ke ujung gang, masuk ke dalam rumah kosong yang telah diceritakan. Orang-orang yang melihatnya hanya bisa saling memandang, bingung.

Malamnya, sesuatu yang lebih aneh terjadi. Suara-suara aneh dan menyeramkan tidak lagi terdengar dari rumah kosong di ujung gang. Rumah itu kini terdengar sunyi, hening. Namun orang-orang tahu bahwa di dalam rumah itu ada kehidupan, benar-benar kehidupan manusia –kabar dengan kedatangan lelaki yang mendiami rumah kosong itu dengan cepat tersebar ke seluruh gang.

Demikian juga malam-malam setelahnya.

Orang-orang tidak tahu apakah mereka harus berterima kasih kepada lelaki asing penghuni rumah kosong ataukah justru mencurigainya. Lelaki asing itu hanya sekali itu terlihat memasuki rumah kosong itu, selebihnya, ia tidak pernah terlihat keluar. Tidak siang hari, tidak juga malam hari. Selama berbulan-bulan.

Namun, peristiwa-peristiwa selanjutnya membuat orang-orang mulai resah, beberapa kejadian aneh terjadi di sepanjang gang. Seorang perempuan renta penghuni rumah nomor dua dari mulut gang mendadak meninggal, kedua bola matanya hilang, menyisakan lubang kosong yang tidak mengalirkan darah. Kedua bola mata perempuan renta itu seperti lenyap begitu saja. Beberapa hari setelah itu, seorang bayi perempuan yang baru lahir pagi harinya, mendadak meninggal. Padahal, bayi perempuan itu terlahir dengan keadaan sangat sehat. Setelah ditelusuri sebab musababnya, orang-orang sungguh tercengang : jantung dan hati bayi perempuan itu lenyap. Sama halnya dengan perempuan renta, jantung dan hati bayi perempuan seperti lenyap begitu saja, tanpa paksaan, tanpa pendarahan. Yang lebih aneh, beberapa hari setelah itu, seorang anak perempuan yang biasa terlihat berlari-lari dengan riang dan lincahnya di sepanjang gang, bermain-main dengan teman seusianya, pada suatu pagi ditemukan sudah tidak bernyawa. Keadaannya sungguh akan membuat siapapun yang melihatnya akan merasa iba, takut, jijik sekaligus mual : kedua tangan dan kakinya lenyap sebatas siku dan lutut, mulut mungilnya telah lenyap. Lenyap begitu saja menyisakan daging putih polos tanpa bentuk bibir.

Perempuan-perempuan di sepanjang gang mulai merasakan kekhawatiran dan ketakutan yang sangat. Masing-masing berharap agar bukan mereka yang tertimpa kemalangan dan kematian selanjutnya. Lelaki-lelaki mulai menjaga perempuan-perempuan mereka.

Usaha mereka sia-sia.

Perempuan-perempuan berikutnya mengalami kemalangan yang tidak terduga. Seorang perempuan yang baru menginjak dewasa ditemukan telah terbujur kaku di dalam kamarnya. Sekujur tubuhnya terkuliti dengan sangat sempurna, menyisakan onggokan daging merah.

Kepanikan dan kengerian yang mulanya melanda sepanjang gang, kini telah meluas ke gang-gang tetangga, bahkan seisi kota telah mendengar tentang peristiwa-peristiwa aneh dan mengerikan itu. Perempuan-perempuan se-kota merasakan kengerian yang sama.

Orang-orang semakin menaruh kecurigaan kepada lelaki asing yang beberapa bulan lalu mendatangi gang itu dan memasuki rumah kosong di ujung gang. Orang-orang memberanikan diri untuk mendatangi rumah kosong itu, berharap menemukan jawaban atas peristiwa-peristiwa aneh yang terjadi. Berbondong-bondong mereka membawa pentungan, parang, maupun bilah bambu dan ranting-ranting pohon yang kebetulan ditemukan. Beramai-ramai mereka mendatangi rumah kosong itu. debu mengepul sepanjang gang menjadi jejak lewatnya kerumunan orang-orang.

Entah kekuatan apa yang dimiliki oleh rumah kosong itu, sesampainya mereka di halaman rumah yang luas dengan pintu jeruji besi tinggi yang telah karatan, mereka berhenti, semuanya terdiam. Keheningan seketika menyeruak. Tidak ada seorang pun yang berani untuk mendorong pintu itu dan memasuki halaman. Terlebih ketika angin kencang tiba-tiba menggoyangkan pintu dan membukanya secukup untuk tiga orang memasukinya, ketakutan melanda benak masing-masing orang. Satu persatu berlari undur diri, dengan berbagai macam alasan untuk menyembunyikan ketakutan mereka.

Seorang anak kecil tersisa. Ia ikut begitu saja rombongan orang-orang itu tanpa tahu hendak kemana dan mau apa mereka. Ia menatap ke dalam rumah kosong itu. Sedikit pun tidak terlihat rasa takut di matanya. Perlahan ia melangkah melewati pintu jeruji besi yang telah terbuka karena angin sesaat lalu. Ia melangkah melewati halaman. Sesuatu menarik perhatiannya. Sebentuk benda berwarna putih menempel di salah satu dinding depan rumah melambai-lambai karena angin. Ia menatap lekat-lekat. Benda yang setelah didekati ternyata selembar kertas itu dipungutnya. Penuh dengan tulisan tangan yang tak sempat ia baca. Ia memegangnya begitu saja.

Anak kecil itu perlahan mendorong pintu kayu yang terlihat sangat berat dan tinggi. Bunyi keriut terdengar menyeramkan. Pintu itu terbuka. Tidak ada seorang pun di sana. Hanya gelap dan pengap. Ia menyingkirkan beberapa sarang laba-laba yang menghalangi langkahnya. Lantai terasa sangat kotor dan berdebu di kaki telanjangnya. Bau busuk sampah tercium pekat. Ia sampai di bawah sebuah tangga. Rasa ingin tahunya memaksanya mendongakkan kepalanya ke atas. Sebuah lantai ada di atas sana.

Ia menaiki satu demi satu anak tangga. Di atas ia menjumpai sebuah ruangan tertutup yang pintunya tampak berbeda dengan pintu-pintu lain di lantai itu. Terlihat bekas-bekas pegangan tangan yang membuka dan menutup pintu itu untuk sekian lama. Ia mendekatinya, terdengar suara lirih seseorang dari dalam ruangan di balik pintu itu.

Dari lubang kunci tempat ia mengintip, cukup untuk melihat setengah ruangan di dalamnya. Seorang lelaki berambut panjang tergerai tak beraturan tengah bersujud menghadap sesuatu, tubuh kurus keringnya setengah telanjang. Ia tengah berbisik kepada sesuatu di depannya. Dengan menggeser sedikit sudut intipannya, anak lelaki pemberani itu melihat dengan jelas apa yang ada di depan lelaki di dalam ruangan.

Sebuah patung kayu berdiri di sana. Patung telanjang seorang perempuan. Oh Bukan. Bukan patung, tetapi benar-benar seorang perempuan. Perempuan itu membisu dan tidak bergerak sedikit pun tatkala lelaki itu menyentuh kakinya, merambat hingga memeluk perutnya.

Apa yang selanjutnya dilihatnya sungguh mengejutkan. Lelaki itu mengangkat perempuan yang dipeluknya dan membantingnya membentur sisi sebuah meja. Perempuan itu pecah, terpotong menjadi dua di bagian perutnya. Serpihan-serpihan kecil berhamburan memencar ke seisi kamar. Lelaki itu berlutut mendekap bagian atas tubuh perempuan yang telah dibantingnya, kepala perempuan itu dibenamkan di dadanya. Ia menangis.

Kejadian yang dilihat anak kecil itu dengan cepat tersebar ke sepanjang gang. Mulanya anak kecil itu hanya menceritakan kepada seorang kawannya. Lalu kawannya bercerita kepada bapaknya, bapaknya bercerita kepada istrinya, istrinya bercerita kepada orang-orang lain di saat arisan dan pertemuan-pertemuan rumpi lainnya. Orang-orang menjadi sangat yakin bahwa di rumah kosong itu ada kehidupan. Seorang lelaki yang berperilaku aneh. Mereka kembali merencanakan akan mendatangi rumah kosong itu. Kali ini dengan penuh keberanian dan semangat balas dendam. Dendam akan berkobar lebih besar saat ia tahu siapa yang hendak dibakarnya.

Peristiwanya terjadi di pagi harinya. Semua orang, perempuan dan laki-laki berbondong-bondong kembali mendatangi rumah kosong itu. Si anak kecil berjalan paling depan tanpa ia tahu orang-orang di belakangnya hendak melakukan apa setelah mendatangi rumah kosong itu dan menemukan lelaki yang tinggal di dalamnya. Pintu pagar besi yang telah karatan terlewati. Orang-orang segera menghambur ke halaman, menerobos pintu dan naik dengan cepat ke tangga menuju kamar yang telah ditunjuk anak laki-laki, sebelum keberanian massal mereka menguap dan rumah kosong itu kembali menjelmakan rasa takut mereka.

Seseorang segera mendobrak pintu. Pintu terhempas ke lantai. Orang-orang paling berani menghambur dan segera mencengkeram tubuh lelaki penghuni kamar. Orang-orang mendapatinya tengah memahat sebuah patung perempuan yang baru saja dikerjakan dari sebatang kayu besar, masih sebatas dua buah dada yang terpahat pada batang kayu itu. Bagian-bagian patung yang dilihat anak kecil beberapa hari lalu masih tergeletak di tempat semula saat anak kecil itu mengintipnya. Lelaki itu pasrah saat orang-orang menyeret dan membawanya ke halaman rumah.

Tanpa perlawanan, lelaki itu, yang terlihat lebih tua dari usia yang sebenarnya dibakar beramai-ramai. Tidak diketahui siapa yang menyiramkan bensin dan menyulut api. Semuanya terjadi begitu cepat. Lelaki itu meregang nyawa di tengah kobaran api yang melahap tubuhnya. Apa yang dikatakan oleh lelaki itu di akhir kehidupannya membuat orang bertanya-tanya. Seseorang mengaku mendengar ia menggumamkan terima kasih. Seseorang yang lain mendengar bisikan dendam. Seorang ibu mengaku tidak mendengar apa-apa selain suara tangis. Seorang anak melihat wajah lelaki itu tersenyum menjelang ajalnya, sementara anak yang lain melihat wajah penuh angkara. Mayatnya yang telah hangus ditinggalkan begitu saja oleh orang-orang. Toh, tidak akan ada orang yang akan lewat dekat-dekat tempat itu lagi.

Esoknya, orang-orang dikagetkan oleh suara jerit seorang perempuan yang mendapati kedua buah dadanya telah lenyap saat ia bangun di pagi hari. Perempuan itu dikenal memiliki buah dada paling indah di sepanjang gang. Jeritan perempuan itu disusul dengan jerit-jerit perempuan-perempuan lainnya di keesokan harinya lagi. Seorang perempuan kehilangan seluruh rambutnya yang indah dan panjang. Seorang perempuan yang lain kehilangan seluruh giginya yang rata dan indah. Sementara yang lain lagi kehilangan batang hidung, alis, bibir, pipi, bahkan ada seorang perempuan yang kehilangan suaranya, ia menjadi bisu.

Orang-orang semakin merasakan kengerian yang sangat. Ada yang mengubungkan kehilangan-kehilangan itu dengan lelaki asing yang telah mereka bakar di halaman rumah kosong di ujung gang, ada yang menyesal karena mungkin saja mereka telah menghukum orang yang salah. Masing-masing saling menyalahkan.

Beberapa hari setelah peristiwa-peristiwa kehilangan bagian tubuh perempuan itu berhenti, orang-orang kembali dikejutkan oleh suara nyanyian merdu seorang perempuan di malam hari yang datangnya dari arah rumah kosong di ujung gang.

Esoknya, seorang anak lelaki kecil kembali melaporkan keberadaan seorang perempuan di bekas ruangan lelaki yang abunya di halaman rumah kosong itu telah lenyap diterbangkan angin dan dibasuh hujan. Yang lebih membuat kaget dan ngeri adalah, anak kecil itu mengaku melihat perempuan pemilik nyanyian di malam hari itu tengah memahat sebuah patung kayu, patung seorang laki-laki.

Kengerian tak henti-hentinya melanda seisi gang, bahkan meluas sampai seisi kota. Semua laki-laki merasakan kengerian yang sama.

Jatinangor, 16-17 Mei 2006



dikirim pada 08:34 pm Tulis Komentar?

Saturday, June 17, 2006
Pelacur dan Semut

Cerpen : Adi  Toha

Aku begitu terkejut saat bangun pagi, semua benda terlihat kecil, semakin kecil. Ranjang tempat tidurku tiba-tiba mengerut, aku segera melompat turun dan melihatnya semakin mengerut mengecil. Aku takut ranjang itu akan hancur karena berat badanku jika aku tidak segera melompat turun darinya. Bukan hanya ranjang itu, semua benda di ruangan hotel ini mengecil. Pintu, almari, jendela.

Ah iya! Cermin. Cermin. Dimana cermin. Aku ingin memastikan apakah memang benar semuanya mengecil ataukah aku yang membesar. Ah, itu dia. Tetapi, bagaimana aku bisa melihat diriku dan benda-benda lain dalam cermin itu jika cermin itu sendiri pun telah mengecil, tidak cukup untuk menampung bayangan sekujur tubuhku dan seisi kamar ini di dalamnya.

Aku hendak melangkah keluar dari kamar hotel berharap aku menemukan seseorang yang bisa menjawab apa yang tengah terjadi padaku. Tetapi, oh tidak, langit-langit kamar ini juga semakin mengecil dan mengerut seakan hendak bersatu dengan lantainya dan menggencet tubuhku di antaranya. Aku mencoba menunduk dan semakin menunduk karena langit-langit kamar itu semakin merendah. Sampai akhirnya aku harus berjalan melata seperti seekor ular, itu pun langit-langit masih terus merendah hendak mengencetku.

Ah, syukurlah, tanganku berhasil mencapai pintu bagian bawah sebelum langit-langit kamar benar-benar telah menyatu dengan lantai. Aku mencoba berdiri. Mendadak aku berpikir, apakah masih ada pintu jika tembok tempatnya berdiri telah tidak ada karena langit-langit telah menyatu dengan lantai? Lagipula, oh tidak! Pintu itu juga semakin mengecil, aku sangsi apakah ia sanggup membawa tubuhku keluar melewatinya? Ia terlihat seperti sebuah kotak sekecil kotak korek api. Untuk memasukkan genggaman tanganku saja ia tidak cukup, apalagi tubuhku. Andai saja aku bisa memotong tubuhku inci demi inci dan aku keluarkan inci demi inci melewati pintu itu.

Aku pasrah dan menunggu saja apa yang akan terjadi. Jika ini adalah pertanda kematian, aku telah siap. Semalam aku telah bercinta dengan seorang klien langgananku. Pagi tadi dia meninggalkan aku tanpa sempat aku tahu. Biasanya ia telah meletakkan lembar-lembar uang di laci meja kamar. Biarlah aku mati dengan menanggung banyak dosa. Lagipula, aku tidak percaya neraka. Sudah cukup neraka yang aku alami. Keluargaku yang berantakan, cacian dan makian orang-orang dekat dan saudaraku yang menyuruhku meninggalkan profesi hinaku. Siksaan itu belum termasuk lelah dan rasa muak harus melayani laki-laki bejat yang membayarku demi semalam kenikmatan birahi.

Aku terjebak di ruangan ini. Aku tidak bisa keluar kemana-mana., hanya bisa berbaring di lantai (atau di bawah langit-langit?). Tubuhku kaku, tidak bisa aku gerakkan ke kiri dan ke kanan, dinding-dinding telah menyempit menjebakku di antaranya. Mungkinkah ini peringatan Tuhan? Ah, masih adakah Tuhan. Dimana Dia saat aku dijual oleh orang tuaku hanya untuk membayar utang bapakku? Dimanakah Dia saat tangan-tangan lelaki yang kepadanya ayahku berhutang, menggerayangi tubuhku dan memaksaku nafsu setannya. Tubuh kecil dan ringkih 13 tahunku hanya mampu pasrah. Dimanakah Tuhan saat aku berpindah dari satu tangan lelaki ke lelaki lain, diperdagangkan untuk memenuhi nafsu purba kesombongan laki-laki.

Ribuan semut tiba-tiba saja mengerubuti kepalaku. Semut hitam, semut rangrang dan beraneka semut lainnya. Dengan liar mereka menggigit dan memakan setiap helai rambutku. Jika saja di depanku terdapat cermin, aku tidak akan bisa membedakan apakah kepalaku berambut semut ataukah kepalaku adalah sarang semut. Tapi, mengapa semut-semut itu tidak mengecil? Harusnya ia juga mengecil seperti yang lain. Tuhan memang adil, semut-semut itu sudah kecil, tidak perlu diperkecil lagi.

Hah? Aku bicara tentang Tuhan lagi?

Tidak! Rambutku! Jangan! Pergilah! Tolong!

Tolong? aku harus minta tolong kepada siapa? Orang-orang pasti telah mengecil. Ukurannya akan menjadi sama dengan semut-semut yang memenuhi kepalaku. Jika orang-orang mendengar teriakanku dan mereka datang kemari, mereka pasti akan dimangsa oleh semut-semut ini. Aku tidak mau melihat orang-orang meregang nyawa karena masalah sepele : menyingkirkan semut-semut dari kepalaku.

Sepele? Kau pikir ini sepele? Semua benda menjadi mengecil dan mengerut, kau terjebak di sebuah kamar yang hendak menggencetmu dari sisi mana pun, dan semut-semut dengan perlahan akan menghabiskan seluruh rambutmu dan kulit kepalamu sampai ke daging-dagingnya, sampai otakmu. Kau pikir sepele hanya karena semut?

Semut-semut itu semakin memenuhi kepalaku. Sebagian berjalan berarak bagai sepasukan kavaleri ke kedua kakiku dan berkumpul di sana. Banyak. Tetapi tidak membuat kepalaku lebih ringan. Semut-semut di kakiku mulai menggigiti kedua kaki, pergelangan dan jemari. Terasa sakit, nyeri, bagai tertusuk ribuan jarum tanpa mengalirkan darah. Aku kesemutan. Tidak. Aku tidak kesemutan. Semut-semut itu benar-benar nyata, berkerubut di kedua kakiku.

Semut-semut itu mulai naik.  Semakin naik. Aku merasakan langkah kaki-kaki kecilnya di sekitar pahaku, menuju selangkanganku. Oh tidak! Ia tengah memasuki selangkanganku dan mengigit-gigit kedalamannya. Pasti ia semut jantan, pandainya semut itu menemukan bagian yang nikmat dari tubuhku.

Tidak! Aku merasakan kaki-kaki lain memasuki selangkanganku. Banyak jumlahnya. Semut-semut itu pasti telah memberitahukan kepada semut-semut yang lain. Mereka berduyun-duyun, berlomba-lomba seperti sepasukan sperma hendak menembus sel telur. Mungkinkah semut-semut itu telah mengintip apa yang aku lakukan semalam? Mungkin saja mereka iri dengan dengan lelaki yang semalam menyetubuhiku.

Tidak! Jangan! Aku tidak ingin melahirkan anak semut.

Aku telah meminum obat anti hamil dan lelaki yang semalam menyetubuhi juga memakai kondom. Jadi tidak mungkin benihnya akan bercampur dengan telurku. Tetapi astaga! Aku tidak pernah minum anti-sperma semut. Pastinya sperma semut-semut itu telah berhamburan menyesaki selangkanganku.

Aku mulai berkhayal aku akan melahirkan anak semut. Khayalanku ini cukup membantuku untuk mengurangi rasa sakit karena tergencet lantai-langit-langit dan rasa sakit di kepalaku karena kulit kepalaku digerogoti oleh banyak semut-semut. Aku berkhayal anakku nantinya akan bertubuh seperti layaknya manusia tetapi kepala dan tangannya adalah tangan semut. Jika ia mempunyai moral yang baik, ia tentunya akan tumbuh menjadi seorang superhero yang akan menyelamatkan bumi dan orang-orang. Aku berharap ia memiliki kemampuan untuk mendengar suara sampai sekecil apapun, bahkan suara hati manusia. Dengan demikian, anakku nanti bisa tahu setiap niat jahat yang hendak dilakukan oleh orang-orang. Juga aku berharap dia mempunyai kemampuan untuk menggali tanah dan hidup di dalamnya. Jika ia mempunyai kemampuan itu, aku akan menyuruhnya untuk merampok rumah-rumah para koruptor dengan cara memasuki rumah mereka dengan diam-diam dari dalam tanah. Aku membayangkan ia akan menjadi ikon penyelamat alam dan lingkungan. Foto dan gambarnya akan terpajang di koran-koran dan majalah-majalah, juga di poster-poster anti perusakan lingkungan.

Namun jika ia bermoral jahat dan bengis, ia akan menjadi seorang pembunuh berdarah dingin. Ia akan membunuh dan mengigit korban-korbannya mulai dari kaki sampai kepala dan otak, menyisakan tulang belulang.  Ia akan membunuh satu persatu manusia untuk menyelamatkan spesies semut yang lain. Semut selalu terinjak-injak oleh manusia. Semut selalu dianggap binatang tidak berguna. Semut selalu dianggap binatang pengganggu. Ia akan melakukan balas dendam terhadap ras manusia.

Lebih baik ia tidak bermoral sama sekali. Jika dia tidak punya moral, ia hanya akan menjadi seonggok daging yang berujud aneh. Setidaknya ia akan menjadi tontonan banyak orang dan memberikanku ketenaran melebihi para selebritis. Bayangkan, aku akan menjadi liputan berita utama semua stasiun berita di dunia. Satu-satunya wanita yang melahirkan manusia semut. Orang-orang tidak perlu iba kepadaku dan memberikan sumbangan-sumbangan apapun. Dengan keterkenalanku itu, sudah cukup bisa mendatangkan banyak uang. Tentunya banyak produser-produser film dan sineas-sineas yang akan meminta anakku menjadi salah satu bintang dalam filmnya. Atau paling tidak, anakku pasti akan menjadi bintang iklan pembasmi serangga.

Oo betapa gilanya aku sampai membayangkan itu semua. Secara genetis aku semut-semut itu tidak akan bisa membuahi sel telurku. Aku tidak akan mungkin melahirkan manusia semut. Tapi mungkin saja bisa. Barangkali, gen semut-semut itu telah bermutasi karena telah semakin banyak mengkonsumsi remah-remah makanan hasil industri yang mengandung banyak sekali bahan kimia sintesis. Mungkin saja semut-semut itu terlalu banyak menjilati gula-gula sintesis hasil laboratorium sehingga gen-gen di dalam tubuh mereka bermutasi menyerupai gen manusia. Atau mungkin saja semut-semut itu telah terkena radiasi elektromagnetik dari benda-benda di sekitarnya : TV, radio, handphone, dan alat-alat elektronik lainnya. Radiasi elektromagnetik dari benda-benda itu mungkin saja tidak berpengaruh kepada manusia, tetapi bisa saja berpengaruh kepada semut yang ukurannya kecil. Ah.. tidak ada yang tidak mungkin di bawah langit.

Mendadak aku mendengar suara langkah kaki. Sangat keras sekali. seperti bunyi mesin penancap paku bumi. Atau seperti gong besar yang dipukul beberapa kali. Ah tidak. Ia seperti suara detak jantungku sendiri.

Suara itu semakin mendekat. Sangat dekat. Ia berada di balik pintu yang ku sentuh. Siapakah kau? Malaikat mautkah? Dari suara langkahnya aku dapat mengirakan ukuran tubuhnya sangat besar. Ia pasti malaikat maut yang datang untuk mencabut nyawaku. Sewaktu kecil aku pernah membaca sebuah cerita tentang malaikat, besar tubuh dan sayapnya memenuhi langit dari ujung timur sampai barat.

Cepatlah buka pintu itu. Aku sudah tidak tahan. Ambillah. Ambillah segera nyawaku. Aku ingin cepat merasakan kematian. Bawa segera aku meninggalkan tubuhku. Aku sudah tidak tahan dengan siksaan semut-semut di kepala dan kakiku. Biarlah tubuhku tertinggal di antara lantai dan langit-langit. Kau boleh saja membawa tubuhku agar langit-langit dan lantai bisa bersatu. Aku tahu tubuhku menjadi penghalang bersatunya mereka, tapi sebelumnya, bawalah dulu nyawaku, ruhku. Biarkan aku menjadi saksi bersatunya langit-langit dan lantai serta dinding-dinding. Aku tidak ingin memisahkan mereka. Sungguh menyakitkan rasanya terpisahkan.

Sekilas cahaya masuk melalui celah pintu. Menyilaukan. Mataku terpejam. Aku merasakan pelukan hangat. Tubuhku seperti dibawa terbang. Ah, akhirnya. Ia membawaku ruhku juga. Tinggi. Semakin tinggi menyentuh langit langit-langit (bukankah dari tadi tubuhku memang telah menyentuh langit-langit?). Aku tak ingin membuka mata. Biarlah aku mati dalam kedamaian dan kehangatan ini. Cahaya itu, cahaya itu begitu menyejukkan. Bersamanya ia membawa udara sejuk yang menyegarkan memenuhi paru-paruku. Cepatlah, cepatlah bawa aku. Reinkarnasikan ruhku menjadi kupu-kupu. Aku ingin selamanya terbang.

***

Seorang lelaki setengah baya memakai jas rapi tengah duduk di lobi hotel, Sepertinya ia tengah menunggu seseorang. Ia raih sebuah koran pagi yang sejak tadi menggodanya untuk dibaca lalu membuka halaman pertama. Tidak ada yang menarik, segera ia lewati dan membuka halaman kedua. Matanya agak terpaku sesaat membaca sebuah judul berita yang tercetak di kolom sebelah kanan. "Seorang Wanita Penghibur Tewas Mengenaskan Di Sebuah Kamar Hotel : sekujur tubuhnya dikerubuti semut". Sebuah suara memanggil namanya. Seorang wanita. Ia segera menutup koran itu dan menggamitnya di ketiak kirinya, berdiri dan melangkah pergi.

Jatinangor, 22 April 2006

Catatan :
Cerpen ini pernah dimuat di Harian Batam Pos, edisi Minggu 6 Mei 2006
link : Pelacur dan Semut di Sriti.com


dikirim pada 08:23 pm Sudah ada (1) Komentar

Friday, June 16, 2006
Pasar Malam, Perempuan Tua dan Sepasang Sepatu

Cerpen : Adi Toha

Ini bukan kisah tentang seorang perempuan tua yang menjual sepasang sepatu di pasar malam, juga bukan kisah tentang seorang perempuan tua yang membeli sepatu di pasar malam. Bukan pula kisah tentang seorang perempuan tua yang memakai sepasang sepatu untuk pergi ke pasar malam. Ini kisah tentang Pasar malam,  perempuan tua dan sepasang sepatu.

Seorang perempuan tua, bahkan terlalu tua, tengah duduk beralas koran bekas di dekat pintu masuk sebuah pasar malam di sebuah lapangan di daerah K di sebuah kota kecil P di kawasan ibukota. Tubuhnya kurus kering, hanya tulang dengan selapis daging. Rambutnya sepenuhnya memutih. Di depannya sebuah mangkuk dari plastik yang tampak di dalamnya dua buah uang koin seratusan. Keduanya kakinya diluruskan di sisi jalan. Selembar kain batik yang sudah usang membelit baju kebayanya yang sudah lusuh, sebagian ia tutupkan di atas kakinya untuk bertahan dalam kedinginan malam. Bukan lah manusia ketika melihatnya tanpa rasa iba.

Dan memang orang-orang yang lalu lalang keluar masuk ke pasar malam itu bukan lah manusia. Tak ada seorang pun yang melirik untuk sekedar menjatuhkan satu atau dua koin uang recehan. Orang-orang itu berdesakan ingin masuk melihat pertunjukan-pertunjukan. Komidi putar, becak angkasa, topeng monyet, rumah hantu dan beraneka jajanan dan mainan. Rintihan perempuan tua itu tak terdengar, terhisap oleh hingar bingar suara penjual karcis lewat pengeras suara. Anak-anak kecil berjingkrak-jingkrak, sorak sorai kegirangan. Ibu-ibu memilih pakaian-pakaian dan dagangan. Anak-anak muda berpacaran.

Perempuan tua itu memandangi keramaian yang kini tak lagi menjadi miliknya. Bahkan ia pun kini sudah tidak lagi menjadi bagian dari dunia. Langkah-langkah waktu telah mengusirnya untuk tidak dapat lagi berkawan dengan dunia dan keramaiannya. Senja usia telah menjauhkannya dari segala hingar-bingar dan hiruk pikuk itu. Ia teringat bagaimana sewaktu kecil dulu, ia sangat suka sekali pergi ke pasar malam bersama teman-teman mainnya, hanya untuk sekedar melihat-lihat keramaiannya, karena ia tidak punya uang untuk membayar karcis meski hanya satu permainan. Tapi ia sungguh bahagia kala itu. Ia menjadi bagian dunia, dunia menjadi bagian keceriaan masa kecilnya.

Seorang gadis kecil berlari memecah kerumunan orang di tengah pasar malam. Tak dipedulikannya orang-orang yang tengah berdesak-desakan melihat aneka permainan. Ia menerobos setiap celah yang ada di antara tubuh-tubuh yang bahkan tak merasakan adanya tubuh seorang gadis kecil melewatinya. Ia menuju ke pojok lapangan, dekat dengan seorang pedagang kembang gula warna-warni. Di sana teman-temannya tengah menanti. Ada tiga orang. Siapakah anak-anak itu, tak ada yang peduli. Masing-masing sibuk dengan kesenangannya sendiri. Anak-anak itu pun tak peduli, apakah orang tuanya akan mencari, atau sudah makankah mereka hari itu.

”Mas, aku dapat uang tadi, ada bapak-bapak yang baik hati mau ngasih aku lima ratus,” gadis kecil itu menunjukkan uang yang dia genggam ditangannya. Bapak-bapak baik hati katanya. Ia tidak tahu, apakah bapak itu benar-benar baik hati mau memberi, ataukah karena rasa iba, ataukah karena ia tak ingin kedapatan oleh orang-orang di sekitarnya menolak uluran tangan meminta seorang gadis kecil di dekat pintu masuk pasar malam itu. Gadis kecil itu tetap mengganggapnya baik hati, karena dengan pemberiannya ia dapat membeli, paling tidak satu satu bungkus roti, atau es loli.

”Hah?, dimana sekarang Bapak-bapak itu, ayo kita cari,” seketika anak lelaki paling tua bertanya. Disana, di dekat pintu masuk, dia sedang membelikan anaknya es krim. Gadis kecil itu menjawab. Ketiga anak itu berlarian menuju seorang bapak-bapak yang tengah menawar es krim untuk anaknya. Gadis kecil itu mengikuti, lima langkah berjarak.

Seorang bapak, memakai kemeja batik safari. Kumisnya menjadi penanda bahwa ia seorang priyayi, atau setidaknya seorang anggota polisi, postur tubuhnya tegap, tetapi perutnya sedikit buncit. Kedua tangannya dimasukkan ke kedua saku celana kain warna abu-abu, sandalnya sandal kulit bermerek mahal. Melihat kedatangan tiga orang anak kecil yang membuka telapak tangan kepadanya meminta, ia geram. Pura-pura ia tidak memperhatikan, berkonsentrasi pada penjual es krim yang lalu diajaknya ngobrol, sekedar menjadi pengalihan agar ketiga anak kecil itu segera berlalu, berpindah mencari seorang dermawan lain. Tetapi ketiga anak itu tetap tak beranjak dari tempatnya semula. Mereka tetap menodongkan telapak tangannya meminta, karena mereka tahu, bapak itu dermawan, terbukti dia telah memberi seorang gadis kecil temannya uang seratus rupiah. Mereka menunggu dengan wajah memelas dan rintihan lapar yang entah dibuat-buat ataukah memang demikian kenyataannya. Gadis kecil memandanginya dari kejauhan.

”Biasa lah, Pak, musim pasar malam, banyak pengemis jalanan yang menyerbu kemari mencari penghasilan”, celoteh penjual es krim. ”kasih saja seratus rupiah-an, mereka pasti akan pergi”.

”Bukan itu masalahnya, Mas. Saya bisa saja langsung memberi mereka uang, satu orang seribu pun saya mampu. Tapi, kalau saya terus-terusan berbaik hati memberi mereka uang, mereka ini akan ketergantungan. Mereka akan terus-terusan minta-minta. Kalau tidak ke saya, ya ke orang lain. Mereka akan malas bekerja. Apalagi mereka masih anak-anak, kalau terus-terusan jadi pengemis, bagaimana nanti nasib generasi muda kita. Ini salah orang tuanya, Mas. Masa anak-anaknya dibiarkan ngemis”, ”Hus..hus.. sudah sana pergi”.

Ketiga anak itu tidak peduli, mereka tetap tidak beranjak dari tempatnya. Telapak tangannya masih meminta.

”Sudahlah, Pak. Kasih saja mereka lima ratus bertiga, mereka pasti langsung pergi”, lanjut penjual es krim lagi.

”Lha, ini. Pikiran-pikiran seperti Mas ini yang membuat anak-anak kita malas berusaha. Mas pikirannya terlalu memudahkan mereka. Lha saya punya uang banyak  kan dari berusaha, bukan meminta-minta, bukan ngemis”, sahutnya ketus

”Lihat saja, gara-gara orang-orang seperti mas-mas ini, ibukota menjadi banjir pengemis, di jalan-jalan, di perempatan-perempatan, di terminal-terminal. Kriminalitas menjadi merajalela, wajah ibukota kita tercinta menjadi kumuh, kumal. Saya malu sama negara-negara tetangga kalau mereka berkunjung ke negeri kita. Lha negeri kita ini kan terkenal di mancanegara sebagai negeri kaya raya, subur, makmur, orangnya ramah-ramah. Saya malu, mas. Saya malu. Makanya, kalau ada kunjungan pejabat negeri-negeri tetangga – tetangga dekat atau jauh sekalipun – kalau bisa, para pengemis-pengemis ini disuruh menyingkir dulu, jangan menampakkan diri. Atau, mereka disembunyikan dulu, rumah-rumah dan perkampungan mereka diratakan dulu, dibersihkan dulu, yang penting tidak kelihatan."

”Oalaah, Pak..Pak. Tinggal kasih aja berapa.. kok malah mikirin tentang negara segala. Mau ngasih apa nggak ? Atau biar saya saja yang ngasih” sahut penjual es krim jengkel. Ia mengambil beberapa buah koin seratusan, diberikannya kepada kedua anak yang meminta-minta itu sambil mendorong gerobak es krimnya pergi.

”Heh.. mas.. mas, anda mau kemana ? Dasar orang bodoh tidak berpikiran jauh ke depan. Kalau sekarang dikasih, besok mereka akan meminta lagi. Walah.. sudahlah, nanti akan saya usulkan kepada anggota dewan, agar orang-orang tidak boleh memberi sumbangan dan belas kasihan sepeser pun kepada para pengemis jalanan. Sumbangan-sumbagan agar disalurkan oleh badan-badan yang sah”, Bapak-bapak itu mengomel sendiri. Lalu ia teringat anaknya yang sejak tadi berdiri di sampingnya, mengira bahwa ia adalah salah seorang dari tiga anak pengemis itu. Dengan satu tangan masih di saku kirinya, ia menggamit tangan kecil anaknya untuk kembali menikmati keriuhan pasar malam.

Malam semakin meninggi, satu persatu orang bergiliran keluar, terutama anak-anak kecil, atau ibu-ibu, bapak-bapak dan keluarga yang membawa anak-anak kecil. Anak-anak muda mengambil waktunya. Di pojok-pojok, di remang-remang. Bercumbu, bercengkerama dengan lawan jenis. Bapak-bapak berkemeja batik safari telah ada di belakang kemudi mobilnya. Anak perempuannya duduk disampingnya, memegang bungkusan kotak yang sudah tidak sabar ingin segera mencoba benda yang ada di dalamnya. Sepasang sepatu baru, harganya dua ratus ribu. Bapaknya baru saja membelikannya.

Jatinangor, Maret 2006



dikirim pada 08:18 pm Tulis Komentar?

Thursday, June 15, 2006
Daun

Cerpen : Adi Toha

Musim Gugur di Halaman

Daun-daun kering berguguran, berputar diterbangkan angin, lalu berserak di halaman. Entah telah berapa kali aku memunguti daun-daun itu satu-satu, aku kumpulkan, dan aku masukkan ke dalam karung bekas lalu dibuang di belakang. Kadang aku berpikir, aku biarkan saja ia membusuk menjadi huma, atau kubiarkan saja angin menerbangkan kembali ke suatu tempat, atau mungkin aku menunggu hujan saja, membiarkan daun-daun itu mengalir terbawa ke samudera. Ahh.. tapi halamanku itu bukanlah tanah yang bisa membusukkan, hanya halaman batako dan semen. sedangkan angin rupanya tidak cukup kuat untuk membawa kembali daun-daun yang telah ia gugurkan. Hujan enggan jua datang.

Sore itu halamanku kembali penuh dengan daun-daun kering. Angin kembali memisahnya dari ranting-ranting pohon besar seberang jalan sana, tepat di depan salah satu toko di seberang jalan. Rupanya angin cukup kencang hingga jatuhnya daun-daun itu mampu menyeberang. Padahal siang tadi aku telah membersihkan halaman itu, terik matahari memaksa keringatku keluar. Mungkin kau berpikir aku kurang waras, atau kurang kerjaan, menyapu halaman saat matahari baru saja bergeser dari titik puncaknya, tetapi aku hanya ingin membersihkan halamanku itu dari dedaunan kering agar terlihat bersih dan enak dipandang mata.

"Lihat! Musim gugur telah tiba," teriak seorang pejalan kaki. "Apa? Musim gugur? Hahaha.. Memang di Indonesia ada musim gugur? Bodoh kamu!" sahut seorang temannya. Mereka tertawa-tawa, melintas di depan mataku, lalu menjauh dan menghilang.

"Lihat, daun-daun berjatuhan, seperti musim gugur saja ya." kata seorang pejalan yang lain. "Iya. pohon besar di seberang jalan jadi meranggas." lanjut seorang temannya. Mereka melintas di bawah guguran daun-daun. Sesekali menyeka daun yang jatuh di rambutnya, atau menempel di pakaiannya.

Tak peduli apa kata mereka tentang daun-daun itu, yang pasti, aku harus membersihkannya setiap hari, pagi dan sore, kadang siang hari jika aku ingin, agar halamanku kelihatan bersih dan orang-orang merasa nyaman berjalan di atasnya.


Siang Seberang Toko

Kau gadis berkerudung penjaga toko kue di seberang tokoku. Aku tak tahu siapa namamu, darimana asalmu. Setiap pagi aku melihatmu tengah membersihkan daun-daun kering yang berserak di halaman tokomu, juga sore hari. Kau membungkuk menggerakkan sapu lidi dalam genggaman tanganmu, kerudungmu berkibar-kibar. Ahh.. kau tersenyum saat melihatku melihatmu. Aku ingin menyapamu dan mengenalmu lebih dekat, tapi aku malu, malu untuk sesuatu yang aku sendiri tidak tahu.

Sesekali aku melihatmu tersenyum. Aku suka senyumanmu. Tapi, bukankah kau selalu tersenyum kepada siapapun yang masuk ke tokomu dan membeli kuemu? Lalu, mengapa kau tersenyum kepadaku? Padahal aku tidak pernah masuk ke tokomu membeli kuemu. Oh, mungkin kau bukan tersenyum kepadaku, tetapi tersenyum kepada seseorang di depan sana yang beranjak masuk ke toko kuemu. Bodohnya aku, mengira senyuman itu untukku.

Dari depan tokoku, aku melihatmu melayani seseorang pembeli. Oh.. begitu ramahnya engkau. Tanganmu dengan sigap mengambil satu persatu kue yang dikehendaki oleh pembeli itu. Aku tidak melihat begitu jelas kue apa itu. Satu yang pasti, kue-kuemu pastilah enak. Apalagi dengan keramahan yang kau berikan kepada setiap pembeli, mereka pasti menikmati kuemu dengan sangat senang. Itulah makanya tokomu selalu ramai dikunjungi oleh pembeli. Terkadang aku cemburu jika ada seorang laki-laki membeli kuemu dan kau melayaninya dengan senyum dan keramahanmu. Andainya aku laki-laki itu. Tentu saja aku ingin sekali-sekali menyeberang jalan dan mampir di tokomu, membeli barang satu atau dua kue sekedar untuk mendapatkan keramahanmu dan melihat dari dekat wajah dan senyumanmu. Tetapi, aku juga penjaga toko, yang telah diberi kepercayaan dan tanggung jawab untuk menjaga buku-buku. Jika aku menyeberang barang sebentar saja ke tokomu, tokoku akan kosong, dan itu berarti aku telah meninggalkan tugasku dan kepercayaan yang telah diberikan kepadaku.

Sesekali aku melihatmu duduk di sana, saat tidak seorang pun pembeli yang masuk. Kau menunggu, termenung. Aku melihatmu melihatku. Ah, tidak. Kau melihat lalu lalang orang-orang dan mobil-mobil yang lewat di depanmu, di depanku, di depan kita, berharap seseorang mampir dan membeli kue-kuemu. Atau kau tengah memperhatikan guguran daun-daun kering itu? Jika memang itu yang kau lakukan, tentunya sore harinya kau harus membersihkan teras toko kuemu itu.

Lihatlah, dia tengah duduk termenung. Kedua tangannya memegang sebuah kotak kardus kecil berwarna putih di atas pahanya. Aku yakin isinya beraneka macam kue yang enak. Hari beranjak siang. Matahari memanas. Daun-daun kering dari pohon besar seberang sana hanya sedikit saja yang berjatuhan, tidak seperti biasanya. Angin enggan keluar. Lihat..lihat, dia berdiri dan melangkah ke tepi jalan, melihat ke kiri dan ke kanan. Ah.. ia pasti ingin menyeberang. Tapi, untuk apa dia menyeberang? Lalu, siapa yang akan menjaga toko kuenya? Oooh.. ada seseorang lagi di dalam toko kue sana, seorang perempuan, lebih tua. Mungkin ia temanmu, kakakmu atau majikanmu. Lalu, untuk siapa kardus putih berisi kue-kue itu. Untukku kah?

Oh.. tidak! dia melihat ke arahku. Jantungku berdetak kencang, semakin kencang. Aku ingin berlari saja, masuk ke dalam toko, bersembunyi di balik tumpukan buku. Kenapa? bukannya kau ingin mengenalnya, bukannya kau ingin dekat dengannya? Lalu mengapa kau bersembunyi?

Oh.. tidak! Lalu lalang mobil dan motor telah jarang, ia pasti menyeberang. Lihat..lihat, dia sudah menyeberang. Dia berjalan ke arahku. Jantungku semakin berdetak kencang. Seketika pikiranku membuat huruf-huruf dan merangkainya menjadi kalimat-kalimat yang telah disiapkan untuk dikeluarkan dari mulutku saat gadis berkerudung itu memang hendak menemuiku. Dua puluh langkah.. sembilan belas.. aku mengira-ngira jarakku dengannya.. delapan belas langkah.. tujuh belas.. dia telah sampai di tengah-tengah jalan raya. Oh.. tidak! Awas! Ada mobil dari sebelah kanan, kencang. Berhenti! Jangan teruskan menyeberang, nanti tertabrak.

Mulutku ingin berteriak, namun ia terkunci rapat. Enam belas.. lima belas, dia hampir sampai di sisi jalan depan tokoku.. lima langkah lagi.. empat.. tiga.. dua.. satu. Dia telah sampai. Aku melihat wajahnya dekat. Lalu dia membalikkan tubuhnya.

Kenapa? Kenapa kau berhenti dan membalikkan tubuhmu? Bukankah kau ingin memberikan kue-kue di tanganmu itu untukku? Ooo.. mungkin kau melupakan sesuatu yang lain yang ingin kau berikan kepadaku, kau hendak menyeberang lagi.

Biarlah, aku akan menunggu, berpura-pura sambil membaca buku. Lihat.. lihat, dia menoleh ke arahku, aku yakin itu. Meski pandanganku tengah tertuju pada halaman-halaman buku, dari sudut mataku aku melihat tubuhmu tiba-tiba memutar, sesekali melihat ke arahku. Mengapa kau tidak langsung saja memberikan kue-kue itu kepadaku? Aku akan sangat senang menerimanya, terlebih lagi, aku bisa melihat lebih dekat wajah dan senyumanmu.

Jalanan masih ramai, mobil-mobil dan motor berlalu lalang. Kau masih saja berdiri di depan sana. Kenapa? Bukankah kau ingin menyeberang lagi ke toko kuemu? Ah.. mungkin dia sedang menungguku, menunggu agar aku beranjak keluar dari toko buku, mendekatinya, dan membantunya menyeberang. Aku berpikir, ini saatnya aku mendekatinya. Aku berdiri, bimbang. Terasa berat kakiku kulangkahkan.

Sebuah mobil angkutan umum menepi, tepat di depanmu. Kau melangkah masuk, menundukkan kepalamu. Oh..tidak! Kau mau kemana? Kenapa kau meninggalkan aku? Kenapa kau meninggalkan toko kuemu? Bukankah hari belum beranjak sore.

Gadis berkerudung, berhentilah, berbaliklah, keluarlah dari mobil itu, aku mohon.
Dia tidak mendengarmu, mobil angkutan itu perlahan berjalan kembali, membawa gadis berkerudungmu pergi. Jauh..jauh..jauh.. untuk hari ini. Kau harus menunggunya lagi sampai esok hari, saat ia membersihkan daun-daun kering yang berjatuhan mengotori teras toko kuenya. Lihatlah, angin kembali berhembus kencang. Daun-daun kering kembali berguguran. Semakin banyak.

Ya, aku harus menunggu sampai esok hari saat guguran daun-daun kembali memenuhi halamanku, juga terasnya. Sore ini aku sengaja tidak akan membersihkannya, biarlah ia menumpuk sampai esok hari. Dan esok, saat ia membuka toko kuenya dan aku membuka toko bukuku, aku akan menjalin sebuah kencan dengannya, bersama daun-daun kering yang berserakan, dalam gerak dan bahasa yang tidak tersampaikan.

Jatinangor, 24 Maret 2006



dikirim pada 08:14 pm Tulis Komentar?

Wednesday, June 14, 2006
Lukisan Wajah

Cerpen : Adi Toha
   
Kamar itu telah lama ditinggalkan. Tetapi jika suatu saat kau kesana dan memasuki kamar yang sempit di sebuah pondokan di ujung gang, kau akan menemukan berlembar-lembar kertas dan kanvas dengan bermacam-macam sketsa dan lukisan wajah orang-orang. Sketsa-sketsa itu tertempel di dinding-dinding kamar yang lembab, yang sebagiannya telah tumbuh jamur. Ada sketsa wajah perempuan berambut panjang, ada yang berambut pendek, ada yang sangat cantik bahkan ada rupa sketsa wajah perempuan iblis. Dari semua lukisan dan sketsa wajah itu, yang paling aku kagumi adalah lukisan wajah istriku.

Di salah satu sudut halaman sebuah mall besar di bilangan simpang lima semarang, aku menemukan laki-laki itu. Ia seorang pelukis wajah yang cukup terkenal diantara orang-orang kaki lima yang sering mangkal di situ. Ia telah menjadi lanskap simpang lima, tak seorang pun meragukan itu. Jika kau ingin wajahmu dilukis dengan tangan, datanglah ke lelaki itu. Jika kau bertanya kepada orang-orang di sekitar simpang lima: dimana kau bisa melukis wajahmu dalam kanvas atau dalam kertas, orang-orang pasti akan menunjuk lelaki itu, yang selalu dapat kau temui tengah melukis wajah seseorang. Dan ketika kau lihat wajah lukisanmu itu, kau seperti melihat wajahmu sendiri dalam cermin. Seperti itulah lelaki itu akan melukis wajahmu.

Suatu siang, aku telah lupa hari dan tanggalnya, kulihat ia tengah melukis wajah seorang perempuan. Ada sebuah foto kecil seukuran setengah kartu remi yang dijepitnya bersama kanvasnya di pojok atas. Foto seorang gadis. Tertarik akan kecekatan tangannya dalam menarik garis-garis dan lekuk-lekuk membentuk sebuah wajah, aku sempatkan diri untuk melihatnya. Kulihat ada beberapa orang selain aku yang tengah melihat dia. Aku berjongkok. Tak ada seorang perempuan pun di situ. Lantas, siapa yang tengah ia lukis ? Aku tak akan ambil pusing.

Aku teringat istriku. Kebetulan aku membawa beberapa lembar fotonya dalam dompetku. Aku tertarik untuk memintanya melukis wajah istriku.

”Mas, tolong buatkan lukisan wajah dari foto istri saya, ini fotonya”, kataku suatu siang itu, di sela    waktu istirahat kerjaku. Kebetulan kantorku tak jauh dari situ. Aku menyodorkan selembar foto istriku padanya.

Dari dekat lelaki itu terlihat masih muda. Usianya tampak seperti masih dua puluhan. Rambutnya panjang sepundak, tidak terlalu lurus, tidak terlalu bergelombang. Ia mengenakan pakaian kotak-kotak warna abu-abu dengan kaos putih di dalamnya. Celana jins belel dengan bagian dengkul yang telah robek menampakkan daging dengkulnya. Dengan tenang lelaki itu menerima selembar foto dariku. Sesaat ia memperhatikan foto itu.

”Mau jadi kapan, Mas?” tanyanya santai.

”Saya tidak terlalu terburu-buru, sih. Mau jadi besok atau lusa juga tidak apa-apa. Asal jangan lebih dari tiga hari. Saya ingin segera memberikan hasilnya pada istri saya”, jawabku.

”Oh, begitu. Sekarang Mas mau masuk kerja lagi, kan ? Mas nanti pulang kerja jam berapa ? Sore ? Oke kalau begitu. Sepulang kerja nanti, Mas sudah bisa lihat hasilnya”

“Baguslah kalau begitu. Saya harus bayar berapa, Mas ?”, tanyaku. Tanganku merogoh dompet di saku celana belakang.

“Nanti saja lah, Mas. Mas lihat dulu hasilnya seperti apa, setelah itu, Mas bisa kasih saya harga yang pantas”

“Baiklah. Saya tinggal dulu. Nanti sepulang kerja saya kesini lagi. Kalau memang belum jadi ya, tidak apa-apa”.

Aku melangkah pergi. Sesaat aku melihat dia segera mengganti foto kecil yang dijepit di pojok kanvasnya dengan foto istriku. Berarti ia akan memenuhi janjinya untuk menyelesaikan lukisan istriku sepulang kerjaku nanti sore.  Berarti pula, aku akan segera tahu hasil lukisan dia seperti apa, benarkah ia seperti yang dikatakan oleh orang-orang di sekitar simpang lima.

Aku penasaran. Sampai sore tiba. Kulangkahkan kakiku menghampiri lapaknya. Ku lihat dari jauh ia baru saja melepas foto istriku dari jepitan di pojok kanvasnya. Segera dia merapikan kanvasnya yang kini telah terlukis di atasnya wajah seorang perempuan yang sangat aku kenal. Ya. Dia lah istriku. Sungguh aku tak mengira aku akan melihat bayangan istriku dalam cermin, persis sama sekali. Bahkan lukisan wajah itu benar-benar menampakkan sinar-sinar kehidupan. Gurat-guratan dan garis-garis wajahnya benar-benar sempurna sekali. Sungguh sangat mirip dengan aslinya. Meskipun lukisan itu hanyalah sketsa pensil yang tak menampakkan warna lain selain hitam dan putih. Aku terkagum-kagum sampai melupakan berapa harga yang harus aku bayar kepada lelaki itu.

”Oh ya, Mas, saya harus bayar berapa ?”, tanyaku seketika saat tersadar aku harus segera membayar jasanya.

”Kalau Mas sudah cukup puas dengan hasilnya, Silahkan, Mas mau ngasih berapapun saya terima, tapi kalau Mas cukup bersabar untuk menunggu sampai besok, akan berusaha semaksimal saya untuk membuat lukisan wajah istri Mas lebih bagus dari pada itu. Yang sekarang ada di tangan Mas hanyalah sketsa dari lukisan sebenarnya yang ingin saya lukis dari wajah istri Mas”, katanya. Aku ragu harus mengeluarkan uang. Di satu sisi aku penasaran dengan apa yang akan aku lihat esok.

Kembali aku serahkan sketsa hitam putih lukisan wajah istriku. Meski aku sudah puas dengan hasil yang dia lukis sore itu, tetapi aku sungguh ingin melihat kemampuan yang lain dari pemuda itu. Tampaknya dia yakin sekali dengan apa yang dia janjikan.

”Baiklah, saya bisa menunggu. Besok sore saya akan kesini lagi”

Sore tiba, aku sudah begitu penasaran akan janji lelaki muda pelukis itu. Bergegas aku memacu langkah menuju tempat dia biasa menggelar lapaknya. Tapi...lelaki itu tidak ada. Ada alasan apa kiranya lelaki itu tidak muncul sore itu. Aku lalu mencoba bertanya kepada salah seorang pedagang rokok yang mangkal di tempat itu. Katanya, pagi tadi dia memang ada, setelah itu dia pulang sebentar, ada sesuatu yang tertinggal, setelah itu dia tidak kembali lagi. Mereka tidak tahu kenapa.  Darinya aku mendapatkan alamat lelaki muda itu, ternyata tak jauh dari rumahku, hanya terpaut beberapa gang. Aku sendiri heran, mengapa aku tidak mengenal lelaki itu, padahal bisa dibilang aku mengenal siapa-siapa saja yang tinggal di gang itu. Ah.. mungkin ia seorang pendatang yang baru pindah.

Rumah tempat tinggalnya hanyalah sebuah kamar kos-kosan. Satu pintu, satu jendela, bersebelahan dengan kamar-kamar lainnya. Kamarnya paling ujung dari deretan kamar-kamar kos di tempat itu. Aku melangkah mendekat. Terlihat sepi. Pintunya sedikit terbuka membentuk celah sempit yang cukup membuatku melihat apa yang ada di dalamnya. Aku mengetuk pintu. Tak terdengar sahutan. Perlahan aku mendorong pintu. Sepi. Berantakan sekali kamar ini. ”Haloooo...ada orang ?”, aku memanggil. Tetap tak terdengar suara. Penasaran aku melangkahkan kakiku memasuki kamar, meski sebenarnya, tanpa masuk pun seisi kamar cukup bisa terlihat. Hanya ada satu kasur lapuk, satu meja kecil dan beberapa sketsa-sketsa lukisan yang tidak selesai. Palet dan cat-cat minyak bertebaran dimana-mana. Dinding-dindingnya lembab, penuh dengan coretan kata-kata dan tempelan lukisan dan sketsa-sketsa wajah. Sebuah photo berbingkai tergantung pada salah satu sisi dindingnya, photo pemuda itu tengah mengenakan toga. Aku mendekat. Rupanya dia seorang lulusan perguruan tinggi ternama di Jogja. Di atas meja kecil aku melihat satu kanvas berdiri, menyandar menghadap ke dinding. Penasaran aku balikkan kanvas itu. Aku terkejut, itu lukisan wajah istriku. Sempurna sekali menurutku. Aku seperti melihat wajah nyata istriku yang terbingkai dalam lukisan ini.

Kemanakah gerangan pemuda itu. Aku menunggu sembari duduk di atas kasur lapuknya. Mataku berkeliling memperhatikan seisi kamarnya, mencoba mendengar kesaksian dinding-dindingnya tentang kehidupan pemuda itu. Aku salut akan kesederhanaan hidupnya. Seorang sarjana yang memilih untuk hidup sebagai seorang seniman jalanan. Aku juga bertanya-tanya, kira-kira berapa harga yang pantas yang akan aku bayarkan atas jasanya. Hati kecilku merasa iba. Bagaimana jika seandainya pemuda itu adalah anakku sendiri.

Tak berapa lama aku mendengar suara keributan di luar. Aku berdiri. Sesaat sebelum aku melangkah keluar, seorang polisi berseragam tiba-tiba telah ada di depanku. Aku kaget. Di benakku melintas seketika pikiran-pikiran aneh tentang pemuda itu. Mungkinkah ia telah melakukan kejahatan kriminal, mungkinkah ia seorang buronan, mungkinkah ia seorang pengedar narkoba, mungkinkah ia.......

”Permisi, Bapak keluarganya Fandi?”, polisi itu bertanya. Aku terbengong. Aku baru tahu kalau nama pemuda itu Fandi. Belum sempat aku menjawab, polisi itu melanjutkan lagi ”Maaf, Pak, dengan sangat menyesal kami ingin mengabarkan bahwa Fandi telah meninggal, pagi tadi dia mengalami kecelakaan. Dia tertabrak bus. Sekarang mayatnya ada di rumah sakit. Kalau Bapak berkenan, sekarang juga kita ke rumah sakit”.

Aku tak sanggup lagi berpikir macam-macam. Di benakku, perasaan terkejut, iba, kasihan, prihatin, kehilangan, dan rasa bersalah bercampur aduk. Aku belum membalas jasanya akan lukisan wajah istriku yang telah dengan sempurna dia selesaikan. Aku merasa bersalah telah membiarkannya menyempurnakan lukisan pesananku. Bukankah, kemarin lukisan itu juga telah bagus dan aku telah cukup puas akan hasilnya. Pastinya, pagi tadi dia telah lupa membawa lukisan wajah istriku, makanya dia kembali lagi untuk mengambilnya. Dan karena dia kembali itulah peristiwa naas itu menimpanya.

Sesaat suasana hening. Polisi itu menunggu jawabanku. Tanpa koordinasi antara otak, hati dan pikiranku, mulutku berucap ”Iya, saya bapaknya. Mari kita ke rumah sakit”.

Langkahku terasa berat. Lukisan wajah istriku aku tinggalkan di kamarnya. Kamar seorang pemuda yang aku belum sempat membalas jasanya. Seorang pemuda yang telah pergi meninggalkan dunia karena ketidakpuasanku.

Jatinangor, 14 Januari 2006

 

dikirim pada 08:05 pm Tulis Komentar?

Tuesday, June 13, 2006
Dongeng Malam

Cerpen : Adi Toha

Mengapa setiap perempuan selalu tampak lebih cantik saat sedikit cahaya yang menerangi wajahnya. Coba kau perhatikan, saat lampu di rumahmu tiba-tiba padam, cobalah kau nyalakan satu batang korek api, kau lihat wajah ibumu, atau saudara-saudara perempuanmu, tampak lebih cantik bukan? Atau cobalah kau keluar, berdiri di pinggir jalan ketika lampu padam itu, perhatikan wajah-wajah perempuan, entah itu tetangga-tetanggamu, ataukah orang lain yang kebetulan saja lewat di depanmu. Perhatikan, mereka sellau tampak lebih cantik bukan? Mungkin karena bentuk dasar mereka adalah cahaya. Cahaya itulah yang membuat wajah-wajah mereka tampak lebih cantik di saat sedikit cahaya dari luar yang menerangi wajah-wajah mereka.

Dalam kegelapan, perempuan selalu tampak lebih cantik, bukan karena orang-orang terbiasa bersenggama dalam kegelapan sehingga mereka tampak begitu cantik dan menggairahkan. Tetapi sungguh, perempuan selalu terlihat lebih cantik saat lampu dipadamkan. Setidaknya itulah menurut penglihatan mataku.

Itulah sebabnya, aku tidak memasang lampu neon di rumahku, agar istriku selalu tampak lebih cantik. Saat kau memasuki rumahku, jangan harap kau akan merasakan suasana rumah yang terang benderang. Yang akan kau temukan hanya suasana remang-remang temaram, karena memang aku hanya memakai lampu teplok minyah tanah besar yang aku gantung di tengah-tengah ruangan. Bukan karena aku hendak berhemat listrik seperti yang sering pemerintah anjurkan. Sekali lagi, aku hanya ingin agar istriku terlihat lebih cantik di mataku, itu saja.

Cahaya lampu teplokku serupa dengan cahaya bulan ketika purnama. Itu yang aku yakini. Aku ingin menghadirkan cahaya purnama itu di setiap malam di rumahku. Bukankah, saat purnama setiap manusia, lelaki atau perempuan terlihat lebih cantik dari biasanya? Kata guruku dulu, ketika purnama air di lautan mencapai pasang tertinggi karena gaya gravitasi bulan yang menarik air di lautan itu. Demikian halnya, aliran darah dan cairan di tubuh manusia pun tertarik oleh gravitasi itu sehingga naik ke atas kepala dan wajah. Itu sebabnya, mengapa pada saat purnama, manusia selalu tampak lebih cantik. Katanya lagi, pada saat purnama, banyak binatang yang memasuki musim kawin. Entah ini ada hubungannya ataukah tidak dengan gaya gravitasi itu.

Aku dilahirkan saat bulan purnama. Aku tidak tahu apakah bapak dan ibuku ketika bercinta membuatku, saat itu tengah purnama ataukah tidak. Waktu itu, menurut cerita ayahku, purnama tengah bersembunyi di balik pucuk-pucuk daun bambu ketika ibuku mulai mengerang kesakitan, aku telah menendang-nendang perutnya meminta untuk dilahirkan. Bapakku segera memanggil Mak Ijah, dukun beranak di kampungku. Tepat ketika purnama muncul dan bertengger di pucuk-pucuk daun jati, aku melihat dunia untuk pertama kalinya. Aku tidak ingat apa yang pertama kali aku lihat waktu itu. Aku pikir, yang pertama sekali aku lihat adalah kedua paha ibuku yang tertutup kain batik, sedetik kemudian adalah wajah ayahku, Mak Ijah, dan terakhir wajah ibuku. Katanya waktu itu aku menangis, aku tak ingat apakah aku menangis. Pun aku tak tahu mengapa aku menangis. Terserah orang mau menafsirkan apa tentang tangisanku itu, tangisan seorang bayi yang terlahir ke dunia.

Tangisanku menggegerkan warga sekampung hingga satu persatu mereka berdatangan ke rumahku dan bertanya kepada ayahku, ’bayinya laki-laki atau perempuan?’; bukannya ’selamat atau tidak?’; ’bagaimana keadaan ibunya?’ Mereka lebih mementingkan tentang jenis kelaminku, tidak berpikir tentang keselamatan ibuku yang telah bersusah payah antara hidup dan mati melahirkanku, melahirkan kehidupan yang baru.

Bapakku memberi aku nama Indra Purnama Jati, lalu aku biasa dipanggil Mas Pur. Istriku pun memanggilku demikian. Kata ayahku, itu untuk menghormati purnama yang telah memberi penerangan saat ayahku berlarian di tengah kegelapan untuk menjemput Mak Ijah. Bayangkan saja, rumah Mak Ijah letaknya di ujung kampung. Ayahku harus lewat pematang sawah yang gelap tanpa penerangan lampu satu pun, hanya sebuah obor bambu yang diisi minyak tanah. Untung waktu itu bulan sedang purnama, katanya, kalau tidak, keselamatan ibuku (dan mungkin juga aku) tidak tertolong lagi. Jati, nama belakangku, kata ayahku adalah simbol kekuatan, ketegaran dan kekokohan. Memang, di kampungku masih banyak tumbuh pohon jati liar yang entah sudah berumur berapa puluh tahun waktu itu. Di samping juga, daun jati sering digunakan orang kampung untuk membungkus nasi dan lauk pauknya saat ada acara selamatan. Selamatan kelahiranku pun, memakai daun pohon jati untuk membungkus nasi dan makanannya, yang kemudian dibagi-bagikan kepada seluruh warga kampung. Jati, menurutku adalah sebuah kebenaran, kesungguhan dan kesejatian. Sedangkan Indra, nama depanku, aku tak tahu apa maknanya. Belakangan aku tahu bahwa Indra adalah nama salah satu dewa dalam mitologi hindu, dewa Indra.

Aku diasuh dan dibesarkan oleh nyanyian-nyanyian kala purnama. Masih kuingat dulu aku bersama teman-teman mainku semasa kecil sering menyanyikan tembang ’yo poro konco dolanan ing jobo, padhang bulan padhange koyo rino, rembulane sing awe-awe, ngeleake ojo podho turu sore’. Riang aku bermain-main di malam hari dengan penerangan cahaya purnama. Padhang mbulan selalu menjadi saat yang ditunggu-tunggu olehku. Aku berlarian berkejaran di jalanan kampung. Orang-orang kampung berkumpul di depan rumah rumah. Purnama menjadi alasan mereka untuk keluar dan bertemu, bertukar sapa, mengobrol ria tentang cuaca, tentang hasil panen dan tentang pertanda-pertanda.

Salah seorang mengatakan ingin menanam kacang tanah musim ini. Aku masih berlarian bersama teman-teman mainku, bermain petak umpet dan kejar-kejaran. Seseorang yang lain membenarkan. Katanya musim kemarau segera tiba, lebih baik menanam palawija. Aku tidak ambil pusing dengan dan tidak begitu memperhatikan. Aku pikir, itu adalah urusan orang tua. Bagiku, mereka mau menanam apa saja, asalkan aku masih bisa bermain-main di sawah-sawah dan ladang. Terkadang aku mencabut beberapa tanaman kacang tanah yang sudah mulai menua di ladang tanpa sepengetahuan pemiliknya, dan tanaman-tanaman yang sekiranya bisa langsung dimakan mentah-mentah atau dibakar.

Dulu kampungku memang gelap. Listrik belum masuk, dengan begitu pemandangan langit di waktu malam jelas sekali terlihat. Bintang-bintang, bulan dan benda-benda langit malam lainnya. Aku mengenal rasi bintang pari atau layang-layang karena diberitahu oleh bapakku, dan rasi bintang itulah yang pertama aku tahu. Berlanjut kemudian, aku mengenal bintang-bintang lainnya. Cahaya mereka jelas sekali terlihat. Rasi-rasi, gugus-gugus mereka dan sebentuk kabut putih yang memanjang di tengah langit. Belakangan aku tahu itu adalah bima sakti.

Ah, tapi itu hanya sebagian cerita masa lalu. Kini kampungku telah berubah sejak lima belas tahun lalu listrik mulai masuk. Kampung tidak lagi gelap gulita. Temaram lampu teplok sudah berganti terang lampu neon. Kampung tidak lagi sepi sewaktu malam. Orang-orang lebih banyak dan berlama-lama berada di depan rumah. Anak-anak kecil lebih bebas berlarian, tidak takut lagi akan kegelapan.

Pada mulanya memang seperti itu. Namun, lama kelamaan, orang-orang lebih memilih untuk menunggui gambar-gambar dan suara yang muncul dari kotak ajaib bernama televisi. Keadaan kampung memang masih ramai, tetapi bukan karena kerumunan orang-orang di depan rumah, atau di pos ronda membicarakan cuaca, panen dan tanda-tanda, tetapi oleh suara-suara dari kotak itu yang terdengar keras dan berlainan dari tiap-tiap rumah.

Sejak itu, malam tidaklah terasa malam. Malam tiada bedanya dengan siang. Sama-sama terang. Kecuali hawa dingin yang menjadi penanda bahwa malam itu ada. Selebihnya, lampu-lampu jalan, lampu-lampu rumah, lampu-lampu halaman berlomba-lomba menunjukkan keterangannya. Bulan dan bintang tak pernah lagi benar-benar terlihat, cahayanya kalah terang oleh lampu-lampu itu. Orang-orang tak lagi membaca pertanda dari langit, mereka lebih memilih prakiraan cuaca di televisi. Lagi pula, buat apa mereka membingungkan tentang cuaca dan musim yang baik untuk menanan tanaman, toh sudah tidak ada lagi sawah dan ladang yang bisa mereka tanami. Sawah-sawah mereka telah berganti gedung-gedung bertingkat, perumahan mewah dan pabrik-pabrik yang entah bagaimana awalnya.

Jika suatu saat kau lewat dengan sengaja atau tidak sengaja di kampungku, jika kau melihat sebuah rumah bambu, temaram dan remang-remang, itulah rumahku. Di dalamnya hanya ada penerangan lampu minyak tanah yang menyala di ruang tengah, di beberapa kamar dan halaman. Aku sengaja tidak memasang listrik di rumahku, bukan karena aku tidak mampu untuk memasang jaringan listrik dan membayar tagihan tiap bulannya, tapi aku hanya ingin menghargai malam hari. Bukankah, maksud Tuhan menciptakan malam agar manusia bisa menikmati malam dengan segala kegelapan dan kedinginannya. Lantas, kenapa pula kita seakan ingin mengganti malam itu dengan siang, atau mengubah malam menjadi siang dengan cahaya-cahaya yang membuat kita tidak benar-benar merasakan malam yang sesungguhnya.

Bagaimana dengan orang lain selain aku di rumahku? Apakah mereka juga berpikiran sama sepertiku? Apakah mereka nyaman dengan caraku menikmati malam seperti itu?

Istriku adalah seorang perempuan desa sederhana. Ia sudah terbiasa dengan caraku seperti itu. Lagipula, bukankah perempuan selalu terlihat lebih cantik jika sedikit cahaya dari luar dirinya. Bahwa pendaran wajah perempuan akan terlihat lebih jelas saat ia berada dalam kegelapan.

Kau pikir aku gila? Terserahlah. Aku hanya ingin menikmati malam yang sesungguhnya. Aku hanya ingin selalu menghadirkan cahaya purnama dalam rumahku yang membias melalui wajah istriku. Aku hanya ingin agar istriku selalu tampak lebih cantik. Bukankah, cahaya akan lebih berguna bila ia menyala dalam kegelapan? Bukankah purnama akan lebih indah jika kita melihatnya dalam kegelapan? Bukankah malam itu ada?

Jatinangor, 2005

Catatan :
Cerpen ini rencananya bakal diterbitkan bersama cerpen yang lain dalam Kumpulan Cerpen Blogfam, semoga cepat terlaksana



dikirim pada 07:59 pm Tulis Komentar?

Monday, June 12, 2006
Hikayat Sekar Arang



Lelaki tua itu berjalan menyusuri lekuk-lekuk sungai. Sesekali ia berhenti menebar pandangannya ke arah seberang. 'Ah, sungai ini pernah menenggelamkan anakku, menyisakan tangis air mata ibunya', lelaki tua itu bergumam. Dipungutnya sebuah batu seukuran kepalan tangannya, ia lempar ke tengah aliran sungai itu. Suara ketika batu menyentuh permukaan air, berkecipak dan akhirnya tenggelam ke dasar mengingatkannya pada peristiwa puluhan tahun lalu, di tepian sungai itu, di atas tumpukan bebatuan itu.

'Sungai ini pernah menjadi milikku, kecipak air ini, bebatuan ini, yang kecil yang besar, rerumputan ini, pasir-pasir ini, ikan-ikan ini. Usia telah menyingkirkan aku untuk tidak lagi menjadi bagian darinya. Lihatlah kerut-kerut di sekujur tubuhku menandai rentang waktu. Kehidupan memapahku melewati jalanan berbatu. Tak lagi aku rasakan keceriaannya, keceriaan anak-anak yang tidak tahu menahu dosa. Sungai ini pernah menjadi bagian dariku dan aku menjadi bagian darinya. Dulu ia pernah bercerita tentang seorang anak kecil yang menjelma menjadi ribuan ikan pari. Aku berharap aku saja yang menjelma menjadi ikan-ikan itu'.

Seorang anak kecil belasan tahun berlarian di tepian kali. Sesekali ia terjun ke air, menyelam, lalu muncul lagi. Sungai telah menjadi kesehariannya, bukan karena setiap hari ia harus mengumpulkan batu-batu sebesar kepalan tangannya untuk dijual di tukang batu. Kulitnya coklat kehitaman, hasil tempaan sinar matahari yang bersekutu dengan lumpur-lumpur halus air sungai. Orang-orang desa sudah maklum. Ia telah menjadi bagian dari lanskap sungai yang selalu ramai dengan penambang batu dan pasir. Seakan sungai tak lengkap tanpa kehadirannya. Bocah laki-laki itu timbul tenggelam mengangkut batu-batu dari dasar untuk dia kumpulkan di pinggir. Sudah tidak diragukan lagi kemampuan menyelam dan berenangnya. Terkadang ia menyelam ke dasar selama 2 menit lebih dan ketika ia muncul, wadah yang dibawanya telah penuh dengan batu-batu.

Orang tua anak itu juga seorang penambang pasir, ibunya seorang pemecah batu. Kehidupan telah mengharuskan mereka untuk mengakrabi sungai dengan segala lanskapnya, batu-batu, pasir, lumut, lumpur dan rumput-rumput serta ilalang yang kadang tumbuh di tepian.

Matahari telah beranjak satu tombak dari cakrawala timur saat anak kecil itu mulai menyelam mengumpulkan batu-batu kali. Air sungai mulai terasa hangat setelah pagi itu terasa begitu dingin. Pantulan-pantulan sinar menyilaukan dibiaskan ombak-ombak kecil bersusulan ke tepian. Tak berapa lama ia muncul ke permukaan. Dalamnya air hanya sebatas lehernya. Ia agak tertegun dengan apa yang ia ditemukan di dasar sungai sesaat lalu. Ia perhatikan sebuah batu putih keemasan berkilauan sebesar ibu jarinya. Bentuknya tidak beraturan, bukan bundar, bukan kotak, bukan pula lonjong. Lekuk dan tektur permukaannya terasa aneh. Terlihat titik-titik berkilauan memenuhi seluruh permukaannya. 'Batu aneh', pikirnya. Ia melangkah menepi, menghampiri bapaknya yang tengah mengayak pasir di sebuah kubangan tak jauh darinya.

Sang bapak penasaran dengan batu yang ditemukan anaknya itu. Ia amati dengan terheran-heran. Sepanjang umur hidupnya di sungai itu, jarang ia menemukan batu sebagus itu. Memang kadang ia mendapati bebatuan yang bentuk dan warnanya sedikit berbeda dengan batu biasanya. Tapi belum pernah sekali pun ia mendapati sebuah batu kali yang kini ada di genggamannya. Berwarna keemasan, terlihat berkilau.

Mereka berpikir jangan-jangan itu adalah emas, batu mulia berharga mahal, peninggalan jaman dulu. Konon, katanya menurut sebuah kisah yang diceritakan turun-temurun di desanya, dulu, entah berapa ratus tahun yang lalu, hidup seorang bangsawan kaya yang mempunyai rumah besar di pinggir sungai itu. Dia mempunyai seorang putri, Sekar Arang namanya. Sekar Arang berparas sangat cantik, banyak pemuda desanya dan desa-desa tetangga yang ingin meminangnya. Tetapi ayahnya telah menjodohkan dia dengan seorang pemuda dari desa hilir sungai yang sederajat dengannya.

Suatu ketika sang putri hendak berendam di kolam belakang rumahnya yang merupakan tempat aliran sungai. Hari terasa sangat panas, ia tak sabar untuk segera merasakan sejuknya air sungai, sampai-sampai ia lupa, kalung emas bermata berlian perhiasannya masih menggantung di lehernya. Dengan selembar kain batik yang melilit tubuhnya, perlahan ia menceburkan diri ke kolam, berenang-renang kecil sambil membasuhkan air ke seluruh wajahnya. Rambutnya yang panjang jatuh melurus terkena air. Ia tak menyadari, kalungnya telah terlepas, tenggelam dan mungkin hanyut terbawa arus sungai yang tenang mengalir.

Selesai berendam, sang putri baru tersadar. Ia merasa panik. Kalung itu sangat ia sukai. Kalung pemberian ibunya yang telah meninggal beberapa tahun sebelumnya. Ia ingin memakai kalung itu dalam pesta pernikahannya yang tinggal beberapa hari lagi. Ia mulai mencari, menyelam ke dasar kolam. Berulang kali ia timbul dan menyelam lagi mencari. Nafasnya tak cukup kuat untuk menyelam dalam waktu lama, sampai akhirnya ia kehabisan nafas dan hampir tenggelam.

Untunglah, ayahnya yang tengah memberi makan perkutut di belakang rumah mengetahuinya. Segera ia berlari, panik, takut dan cemas sesuatu telah terjadi pada putrinya. Tanpa pikir panjang sang ayah mencebur ke dalam kolam untuk menolong putrinya. Tepat ketika sang putri akan tenggelam kehabisan nafas, sang ayah berhasil menangkapnya. Dibawanya sang putri ke tepi kolam, ia tak sadarkan diri. Sang ayah segera menanyakan apa yang terjadi, ketika Sekar Arang tersadar kembali. Sekar Arang tidak bisa berbohong lagi, meski sebenarnya ia tak ingin ayahnya tahu, kalung miliknya telah hilang.

Bukan kalung itu yang sang ayah khawatirkan, tetapi keselamatan Sekar Arang, mengingat beberapa hari lagi pernikahannya akan dilangsungkan. Ia tak ingin menanggung malu kalau akhirnya pernikahan dibatalkan dan tentunya ia tak ingin menanggung kesedihan lagi setelah istrinya meninggal. Ia anak satu-satunya.

Esoknya, kolam telah penuh dengan orang-orang. Sebagian adalah orang-orang suruhan sang ayah untuk mencarikan kalung itu, sebagian lagi adalah pemuda-pemuda yang ikut mencari setelah sebelumnya mendengar janji Sekar Arang bahwa siapapun yang menemukan kalung itu, akan dijadikan suaminya. Sekar Arang telah memutuskan untuk membatalkan pernikahannya semula. Sang ayah menyanggupi, meski sebenarnya ia berat untuk menanggung malu atas keputusan putrinya itu.

Berhari-hari, bermalam-malam, orang-orang itu terus mencari, namun kalung emas sekar arang tak kunjung ditemukan. Diam-diam, tanpa sepengetahuan ayahnya, ketika kolam telah sepi dari orang-orang, Sekar Arang menceburkan diri ke kolam, berendam dan memohon kepada dewata, agar ia dapat menemukan kembali kalungnya itu, dan agar dia diberi pasangan yang tepat nantinya. Hampir tiap malam sekar arang melakukannya. Hingga suatu pagi…

Orang-orang terkaget ketika mendapati kolam yang semula bersih dan tenang, kini penuh dengan ribuan bahkan jutaan ikan pari dari yang paling kecil sampai yang paling besar. Terlebih kaget lagi sang ayah, dia tidak mendapati putrinya meski telah dicari kemana-mana, ke seluruh sudut rumah dan pelosok desa. Orang-orang lalu menghubungkan ketiadaan Sekar Arang dengan kemunculan tiba-tibanya jutaaan ikan pari. Sekar Arang telah menjelma menjadi jutaan ikan pari agar ia bisa berenang, menyelam dan mencari sendiri kalung perhiasannya yang hanyut tenggelam. Sejak saat itu, kolam tempat hilangnya sang putri dan sungai asal aliran air kolam itu diberi nama sesuai dengan namanya, Sekar Arang. Kisah ini diceritakan turun temurun, nama Sekar Arang pun bergeser menjadi Sengkarang. Lidah orang-orang lebih mudah mengucapkan Sengkarang daripada Sekar Arang. Dan kalung emas itu tidak pernah ditemukan.

Sengkarang, sungai itu menyimpan banyak kisah. Batu-batu, pasir, lumpur, lumut dan airnya masing-masing berbicara dalam bahasa mereka sendiri. Telah lama mereka mengamati sejak kelahiran anak kecil bertubuh kurus berkulit coklat kehitaman. Kelahirannya ditandai dengan meluapnya air sungai sampai menenggelamkan desa. Mereka telah mengamati sejak ia mulai pertama kali bersentuhan, menjejakkan kakinya di permukaan air, sejak pertama kali ia mulai menyelami kedalamannya, sejak pertama kali ia mulai menyapa bebatuan di dasarnya. Mereka telah memilih anak kecil itu untuk menemukan batu putih keemasan berkilauan ketika ia menyelam ke dasar sungai, tak jauh dari tempat bapaknya menggali kubangan untuk mencari pasir sungai.

Sang bapak yakin kalau sebuah batu di genggamannya adalah emas itu, emas yang pernah hilang itu. Meski bentuknya sudah tidak beraturan dan tidak bulat lagi, tapi sang bapak yakin bahwa itu bukan batu biasa, pasti emas. Sungai telah menggerusnya, meleburkannya dengan batu-batu kecil dan pasil. Sungai telah menghanyutkannya, menyepuhnya dengan lumut-lumut dan ikan-ikan telah mengeraminya hingga menjadi bentuk yang sekarang.

Seisi kampung gempar setelah itu. Kabar begitu cepat tersiar. Keesokan harinya sungai telah penuh dengan ratusan bahkan ribuan manusia yang datang tidak saja dari desa hulu dan hilir, tetapi juga dari desa-desa tetangga, berharap dapat menemukan sisa-sisa emas yang mungkin melebur dengan batu-batu kecil. Lanskap sungai telah berubah, kubangan-kubangan digali berderet di sepanjang tepi sungai, masing-masing dengan satu atau dua orang yang mencoba mencari sesuatu yang bercahaya di antara pasir-pasir yang terangkat dari dasarnya. Ada juga yang langsung mencari di dasar sungai, menyelam. Anak kecil itu tidak punya ruang lagi untuk mengakrabi sungai.

Berhari-hari pemandangan seperti itu terus ada. sampai akhirnya sang anak kecil itu dikabarkan hilang. Terakhir kali orang melihatnya adalah ketika ia tengah menyelam di hulu sungai, di dekat galian pasir terjauh dari desanya. Esoknya, orang-orang dikejutkan dengan munculnya ribuan bahkan jutaan ikan pari yang berenang-renang memenuhi aliran sungai. Orang-orang ramai menghubungkan hilangnya anak kecil itu dengan munculnya ribuan ikan pari. Orang-orang kampung tidak berani menangkapi ikan-ikan itu. Pun mereka melarang orang-orang dari kampung lain menangkapnya.

Perlahan keramaian di sungai mulai berkurang. Orang-orang satu persatu tidak berani lagi mendekati sungai untuk mencari batu emas. Sungai kemudian sepi, menyisakan bekas-bekas galian yang seakan ingin berbicara 'tidak akan kau temukan emas di sini, juga tidak akan kau temukan anak kecil itu di sini. Ia telah menyatu dengan sungai. Ia adalah sungai ini. Sia-sia saja kau cari. Kau hanya akan merusak keindahan sungai ini'

Seorang lelaki tua melangkah menyusuri lanskap sungai yang kini sudah berubah. Aliran sungai tak lagi seindah dulu. Bukan karena matanya yang sudah mulai merabun, tetapi telah beberapa kali aliran sungai itu berpindah-pindah setiap kali musim banjir. Lagi, ia memungut sebuah batu, tak lebih besar dari kepalan tangannya. Ia melemparnya ke tengah. Bunyi ketika batu itu menyentuh permukaan air hingga air berkecipak, sampai akhirnya batu tenggelam menyentuh dasar, seakan ingin menyampaikan pesan lelaki tua itu 'kau telah memilih anakku, anakku ada di sana, jagalah ia'. Lalu lelaki itu pergi.

Kalau kau suatu saat datang atau tanpa sengaja kau melewati sungai sengkarang dan kau melihat banyak ikan-ikan pari di sana, ingatlah kisah ini, kisah tentang Sekar Arang dan seorang anak kecil yang menjelma menjadi ribuan ikan pari. Mungkin ikan-ikan pari yang kau temui adalah jelmaan salah satu dari mereka berdua.

Jatinangor, 2005



dikirim pada 07:46 pm Tulis Komentar?

Google Modules
Next Page
|| HOME || DAILY || SHORT STORY || POET-POETRY || BOOK REVIEW || FILM REVIEW || UNCATEGORIZED || JUST PROFILE || GALLERY ||


modified template by jalaindra since Agustus 2006
from the original template by blogdrive design